Selasa, 26 Juni 2018

seputar teori bimbingan konseling

BIMBINGAN KONSELING 

A. KONSELING KEPRIBADIAN 
1.      Teori Psikoanalisis Klasik (Sigmun Freud)
Psikoanalisis dapat diartikan sebagai analisa jiwa. Teori psikoanalisis klasik pertama kalinya ditemukan oleh Sigmun Freud di tahun 1986, yang mana pada masa itu teori psikoanalisis merupakan teori baru yang meninjau tentang manusia yang menganggap bahwa ketidaksadaran menjadi peran penting untuk memahami perilaku dan kepribadian manusia. Freud mengartikan psikoanalisis dalam tiga arti, antara lain adalah:Psikoanalisis digunakan untuk menunjukkan sebuah metode penelitian terhadap proses psikis, misalnya saja seperti mimpi. Hal ini tak pernah dijangkau oleh penelitian ilmiah sebelumnya.Psikoanalisis dapat ditunjukkan sebagai salaha satu teknik yang digunakan untuk mengobati gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh klien neorotis.
Psikoanalisis digunakan untuk menunjukkan seluruh pengetahuan mengenai psikologis baik yang di dapatkan melalui metode atau teknik.Teori psikoanalisis menjadi salah satu teori psikologi kepribadian yang paling komprehensif dibandingkan teori lainnya. Freud mendeskripsikan kepribadian ke dalam 3 pokok bahasa, yaitu struktur kepribadian, perkembangan keperibadian, serta dinamika kepribadian. (baca juga: Persepsi Dalam Psikologi)
2.      Teori Kepribadian Alfred Adler
Teori kepribadian lainnya datang dari Alfred Adler. Menurut Adler, manusia merupakan makhluk individual yang termotivasi oleh dorongan-dorongan sosial yang memang sudah dibawa ketika lahir. Alfred Adler merupakan pelopor dalam ilmu psikologi yang membahas tentang teori bawah sadar yang merupakan bagian penting di dalam sebuah kepribadian seseorang.Teori Adler sendiri sangat bertentangan dengan teori Freud, yang mana lebih menunjukkan bahwa tingkat kesadaran individu mendorong untuk selalu menjadi sukses dan terbaik. Bila mereka mau bekerja keras, maka mereka dapat sukses, begitupun sebaliknya.
Adler juga menerapkan teori urutan lahir untuk memprediksi kepribadian seseorang. Adler yakin bahwa keturunan, lingkungan, dan kreatifitas di dalam lingkungan mmampu membantuk kepribadian seseorang. Berikut ini penggambaran sifat anak yang didasarkan pada urutan lahir:
Anak pertama: Lebih bersifat menjaga, mengatur dengan baik, memiliki kecemasan yang tinggi, pengkritik, serta mampu melindungi.
Anak kedua: memiliki motibvasi yang tinggi, senang bersaing, pemberontak, mudah putus ada, serta dapat bekerja sama.
Anak bungsu: realistis, manja, tergantung dengan yang lain, serta ambisius.
Anak tunggal: manja, takut bersaing, berusaha menjadi pusat perhatian, namun dewasa secara sosial.
3.      Teori Kepribadian Karen Horney
Sebenarnya, Horney merupakan salah satu pengikut dari Teori Freud. Namun dengan berjalannya waktu, Freud mulai terpengaruh dengan teori Adler dan Jung sehingga lebih mengembangkan pendekatan kepribadian holistik. Horney memperlihatkan cara pandang yang berbeda mengenai neurosis. Menurutnya, terdapat hubungan yang jelas antara neurosis dengan kehidupan sehari-hari. Neurosis juga sebenarnya merupakan cara yang manusia gunakan untuk menjalani hubungan dengan lainnya. Namun hanya sebagian saja yang bisa melakukan hal tersebut dengan baik.
4.      Teori Kepribadian Harry Stack Sullivan
`     Menurut Harry Stack Sullivan, kepribadian merupakan sebuah hipotesa, sehingga tak dapat diamati secara terpisah melalui situasi yang interpersonal. Kerangka konsep dari teori Sullivan adalah mengenai perkembangan kepribadian. Sullivan fokus terhadap sebuah pandangan yang bersifat psikologi sosial tentang perkembangan kepribadian. Yang kemudian pandangan tersebut memiliki pengaruh-pengaruh tertentu terkait dengan manusia yang berperan sebagaimana mestinya. Sehingga membuat faktor sosial sebagai penentu dari perkembangan psikologis. Konteks yang dikemukakan oleh Sullivan tak mempelajari mengenai person manusia melainkan kepada situasi interpersonalnya. Bagian dari pribadi seseorang lebih banyak berasal dari kejadian-kejadian interpersonal dibandingkan dengan kejadian intrapsikis.
Kepribadian adalah pusat dinamika, yang di dalamnya ada bermacam-macam proses yang terjadi pada seni interpersonal. Dinamika merupakan karakter yang ada di dalam diri manusia, dinamika inilah yang akan memberikanwatak pada hubungan interperseonal manusia.
5.       Teori Erich Fromm
Teori kepribadian lainnya berasal dari Erich Fromm, keunikan dari teori ini adalah penggabungan dari teori Freud dan Mark. Pada teori Freud, lebih memfokuskan pada alam bawah sadar, kebutuhan biologis, dan lainnya. Freud menyatakan bahwa karakter manusia sangat ditentukan pada aspek biologisnya. Sedangkan di dalam teori Mark, karakter manusia terbentuk dari lingkungan serta manusia yang berada di dalam lingkungannya. Fromm melengkapi kedua teori ini dengan sistem deterministik yaitu mengenai kebebasan. Menurutnya, orang-orang dapat melampaui determinisme yang ditentukan oleh Marx dan Freud. Fromm menjadikan ide kebebasan ini sebagai karakter utama dari manusia.
6.      Teori Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung merupakan salah satu dari ahli psikologi yang cukup terkemuka pada abad XX. Bahkan, beliau merupakan ahli psikologi pertama yang merumuskan tentang tipe kepribadian manusia dengan menggunakan  istilah introvert dan ekstrovert. Di dalam teori kepribadian yang diungkapkannya, beliau membahas hal-hal penting termasuk tentang ego, ketidaksadaran kolektif, serta ketidaksadaran personal. Menurut Jung, manusia penuh pengaruh dari warisan generasi terdahulu, kemudian kepribadian dibentuk secara tak sadar. Kepribadian seseorang akan terbentuk melalui perjalanan proses yang panjang turun temurun dari generasi ke generasi yang ada.
Menurut Jung struktur jiwa terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
·         Ego
Merupakan bagian dari jiwa dasar yang terdiri dari ingatan, pikiran, persepsi, serta perasaan yang sadar. Dari ego inilah muncul identitas dan kontinyuitas dalam diri seseorang.
·         Collective Unconscious
ang yang berisikan bekas-bekas ingatan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tidak hanya meliputi sejarah manusia saja namun juga leluhur nenek moyangnya. Collective unconscious terdiri dari beberapa archetype, antara lain adalah:
ü  Persona.
ü  Anima dan Animus.
ü  Shadow.
ü  Self.
ü  Personal Unconscious
Pada bagian ini terdiri dari pengalaman-pengalaman yang dialami secara sadar namun dilupkan dengan cara suppression dan repression. Pengalaman-pengalaman yang bersifat lemah juga akan masuk ke dalam bagian ini.
7.      Teori Kepribadian Gordon W Allport
Ciri khas yang paling terlihat dari Teori Gordon W Allport adalah:
·         Penggunaan model hewan, anak-anak, mesin tidak dapat digunakan untuk merumuskan pada teori yang bermanfaat mengenai manusia. (Baca Juga : Kode Etik Psikologi)
·         Tulisan-tulisan yang dibuatnya menjelaskan mengenai keunikan dari perilaku manusia
·         Karya-karyanya mengutamakan untuk masalah-masalah empiris, bukan ditujukan untuk kesatuan teori dan metodologi.
·         Penggunaan teorinya tidak terbatas. (Baca : Teori Belajar dalam Psikologi)
·         Sangat mengutamakan Trait, sehingga banyak menyebutnya teorinya sebagai Trait Psychology.
Menurut Gordon, kerpibadian merupakan sesuatu hal yang unik dan dimiliki oleh manusia pribadi masing-masing. Gordon juga menyatakan bahwa kesadaran manusia dipengaruhi oleh 3 komponen dibawah ini.
·         Dynamic Organization.
·         Psychophysical System.
·         Determine.

8.      Teori Psikologi Individual
Teori Psikologi Kepribadian selanjutnya adalah teori psikologi individual. Alfred Adler merupakan pengembang dari psikologis individual, yang merupakan sistem komparatif untuk memahami seseorang serta berkaitan dengan lingkungan sosialnya. Psikologi individual sendiri dikembangkan langsung oleh Alfred Adler serta beberapa pengikutnya antara lain adalah Martin Son Tesgard, Donal Dinkmeyer, dan Rudolph Drekurs. Ada 7 prinsip dasar dari psikologi individual, antara lain adalah:
·         Perasaan rendah diri dan kompensasi.
·         Tujuan yang sifatnya semu.
·         Berjuang menjadi superior.
·         Gaya Hidup.
·         Minat Sosial.
·         Kreatif.

9.      Teori Psikologi Behaviorisme
Psikologi Behaviorisme merupakan bidang ilmu di dalam psikologi yang di dalamnya mempelajari tentang perilaku seseorang. Sistem psikologi Behavorisme merupakan transisi dari sistem yang ada sebelumnya. Sistem psikologi ini sangat mendapat dukungan yang kuat dan berkembang pesat di Amerika Serikat pada abad 20.

Ada beberapa tokoh-tokoh yang memiliki pandangan terhadap psikologi Behaviorisme:
·         John Watson.
·         Burhuss Frederick Skinner.
·         Erward Lee Thomdike.
·         Ivan Petrovich Pavlov.
·         Robert Gagne.
·         Albert Bandura.

10.  Teori Trait
Teori trait sendiri dicetuskan oleh Gordon Allport yang merupakan ahli psikologi yang meneliti mengenai kepribadian trait dalam diri manusia. Menurut Allport, teori trait merupakan sistem neuropsikis yang dalam perkembangannya digeneralisasikan kemudian diarahkan agar mendapatkan kemampuan untuk menghadapi berbagai perangsang secara bersamaan, danjuga membimbing perilaku ekspresi dan adaptasi secara bersamaan. Terdapat lima faktor yang dalam teori trait, antara lain adalah:
·         Neurotikisme.
·         Ekstraversi.
·         Keterbukaan.
·         Keramahtamahan.
·         Kehati-hatian.
11. Teori Humanistik
Teori Humanistik dicetuskan pertama kali oleh Arthur Combs, Carl Rogers, Erich Fromm, Viktor Franki, serta Abraham Maslow. Pada teori humanistik, lebih melihat pada perkembangan kepribadian seseorang. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan adalah untuk melihat kejadian yang mana manusia dapat membangun dirinya sendiri untuk melakukan hal yang positif.
Kemampuan untuk melakukan hal-hal positif inilah yang disebut potensi manusia. Para ahli yang memiliki aliran humanism biasanya akan lebih fokus pada pengajaran kemampuan hal-hal positif ini. Kemampuan positif sangat berkaitan dengan pengembangan emosi positif yang berada dalam domain afektif. Emosi menjadi karakteristik yang kuat dan terlihat dari orang-orang yang beraliran humanisme.
Teori humanisme sangat cocok jika diterapkan dalam pembelajaran yang sifatnya untuk membentuk kepribadian, perubahan sikap, kesadaran hati nurani dan juga analisis pada fenomena sosial.

12. Teori Kepribadian Henry Murray
Henry Alexander Murray adalah salah satu tokoh yang mengembangkan ilmu psikologi kepribadian. Beliau lahir dan  besar di New York pada tanggal 13 Mei 1893 dan meninggal pada tahun 1988. Henry Murray berpendapat bahwa kepribadian lebih mudah dipahami dengan menyelidiki alam ketidaksadaran seseorang (unconscious mind).
Komponen definisi kepribadian murray, sebagai berikut :
·         Kepribadian adalah abstraksi yang dirumuskan teoritikus ( ahli teori ), bukan gambaran tingkah laku individu.
·         individu adalah gabungan beberapa peristiwa yang secara ideal meliputi rentang hidup sang individu. Sejarah kepribadian yaitu : kepribadian itu sendiri.
·         Definisi kepribadian mencakup semua unsur tingkah laku yang tepat dan berulang, juga meliputi unsur unsur yang baru dan unik.
·         Kepribadian merupakan fungsi yang mengatur dan menjadi penunjuk arah dalam diri individu yang memiliki tujuan mengintegrasikan beberapa konflik yang terjadi serta rintangan rintangan yang harus dilalui, memuaskan kebutuhan kebutuhan individu dan menyusun rencana rencana untuk mencapai tujuan dimasa datang.
·         Kepribadian terletak di otak, tanpa otak tidak ada kepribadian (no brain, no personality).
13. Teori Kepribadian Gestalt
Psikologi Gestalt merupakan suatu aliran psikologi yang berkembang di Jerman pada tahun 1912. Psikologi ini muncul bersamaan dengan sebuah artikel yang terbit berjudul “Experimental Studies of the Perception of Movement” oleh Max Wertheimer.  Max Wertheimer (1880-1943), pada zamannya dikenal sebagai penemu Psikologi Gestalt, ia juga bekerja sama dengan kedua temannya yaitu Kurt Lewin Koffka (1886-1941) dan Wolfag Kohler (1887-1967), dimana keduanya juga memiliki pandangan yang sama dengan Wertheimer.
Aliran Gestalt menentang aliran behavioristik yang memiliki pandangan elementaristik. Menurut Gestalt, baik strukturalisme maupun behaviorisme sama-sama memiliki kesalahan karena telah membagi pokok bahasan menjadi beberapa bagian terkait yaitu perilaku menjadi sebuah elemen-elemen. Pandangan psikologi Gestalt berpusat pada apa yang dipersepsi itu merupakan sebuah kebulatan. Teori ini juga dikenal dengan teori pembelajaran yang mendalam.

B. BK PRIBADI SOSIAL
1. Pengertian Bimbingan Pribadi Sosial
Bimbingan pribadi-sosial merupakan salah satu bidang bimbingan yang ada di sekolah. Menurut Dewa Ketut Sukardi (1993: 11) mengungkapkan bahwa bimbingan pribadi-sosial merupakan usaha bimbingan, dalam menghadapi dan memecahkan masalah pribadi-sosial, seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan.
Sedangkan menurut pendapat Abu Ahmadi (1991: 109) Bimbingan pribadi-sosialadalah, seperangkat usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat mengahadapi sendiri masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya, mengadakan penyesuaian pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial, memilih jenis-jenis kegiatan sosial dan kegiatan rekreatif yang bernilai guna, serta berdaya upaya sendiri dalam memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan sosial yang dialaminya.
Inti dari pengertian bimbingan pribadi-sosial yang dikemukakan oleh Abu Ahmadi adalah, bahwa bimbingan pribadi-sosial diberikan kepada individu, agar mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan pribadi-sosialnya secara mandiri. Hal senada juga diungkapkan oleh Syamsu Yusuf (2005: 11) yang mengungkapkan bahwa bimbingan pribadi-sosial adalah bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi.
Yang tergolong dalam masalah-masalah sosial-pribadi adalah masalah hubungan dengan sesama teman, dengan dosen, serta staf, permasalahan sifat dan kemampuan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal dan penyelesaian konflik.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi-sosial merupakan suatu bimbingan yang diberikan oleh seorang ahli kepada individu atau kelompok, dalam membantu individu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial, seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan
2. Landasan Bimbingan dan Konseling Pribadi Sosial
Membicarakan tentang landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, seperti landasan dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal atau pun landasan pendidikan secara umum.
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya (klien). Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan dan konseling, yaitu landasan filosofis, landasan religious, landasan psikologis, landasan sosial-budaya, landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan teknologi, dan laandasan pedagogis. Selanjutnya, di bawah ini akan dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut :
1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis.Landasan filosofis dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Dari berbagai aliran filsafat yang ada, para penulis Barat .(Victor Frankl, Patterson, Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut :
ü  Manusia adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan perkembangan dirinya.
ü  Manusia dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya.
ü  Manusia berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri khususnya melalui pendidikan.
ü  Manusia dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol keburukan.
ü  Manusia memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara mendalam.
ü  Manusia akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri.
ü  Manusia adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.
ü  Manusia adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu adan akan menjadi apa manusia itu.
ü  Manusia pada hakikatnya positif, yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun, manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk melakukan sesuatu.
Dengan memahami hakikat manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya.
2. Landasan Religius
Dimensi spiritual pada manusia menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk religious. Hal ini menimbulkan keyakinan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan. Keyakinan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan, mengisyaratkan pada ketinggian derajat dan keindahan manusia serta peranannya sebagai khalifah di bumi. Derajat dan keberadaan yang paling mulia diantara makhluk- makhluk Allah Swt. Lainnya perlu dimuliakan oleh manusia itu sendiri.Allah Swt. Mengamanatkan kepada manusia untuk menjadi pemimpin , terutama pemimpin bagi dirinya sendiri. Untuk dapat memikul amanat itu, Allah Swt telah menciptakan manusia dengan segala fasilitas keinsanan dan keutuhan yang sempurna dan lengkap. Sehingga dengan itu, manusia merupakan makhluk yang terbaik, indah dan sempurna. Kemanusiaan manusia perlu dikembangkan dan dan dimuliakan secara sengaja melalui berbagai upayaantara lain melalui pendidikan dan bimbingan serta pengembangan kebudayaan dalam arti yang seluas- luasnya.
Landasan religious bagi layanan bimbingan dan konseling setidaknya ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu :
·         Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Allah Swt,
·         Sikap yang mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah- kaidah agama,
·         Upaya yang memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya ( termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi ) serta kemasyarakatan yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah individu.
Landasan religious dalam bimbingan dan konseling pada umumnya ingin menetapkan klien sebagai makhluk Allah Swt. Dengan segenap kemuliaan kemanusiaan dan menjadi focus netral upaya bimbingan dan konseling. Klien dengan segenap kemuliaan kemanusiaannya hendaknya diperlakukan dalam suasana dan dalam cara yang penuh kemuliaan kemanusiaan pula. Kemulian manusia banyak diungkapkan melalui ajaran agama. Oleh karena itu, dalam masyarakat agama itu banyak macamnya, maka konselor harus hati- hati dan bijaksana menerapkan landasan religious terhadap klien ( siswa) yang berbeda latar belakang agamanya.
Dalam konteks islam, implementasi layanan bimbingan dan konseling yang berlandaskan religious, harus merujuk kepada ajaran islam yang terangkum dalam Alquran dan Al Hadis. Ini bermakna bahwa praktik pemberian bantuan ( layanan bimbingan dan konseling) disekolah atau madrasah terlebih lagi untuk klien yang beragama islm, tidak boleh bertentangan dengan ajaran islam.

3. Landasan Psikologis
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkungan, (c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e) kepribadian.
a)      Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisnya maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–, menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan.
b)      Pmbawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk daN mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-siakan.
c)      Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan biologis dan kultural dalam perkembangan individu; (2) Teori dari Freud tentang dorongan seksual; (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial; (4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg tentang perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier; (7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8) Teori dari Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai dengan masa dewasa.
d)     Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor/keterampilan. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau pun hasil belajar sebelumnya.
Untuk memahami tentang hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa dijadikan rujukan, diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme; (2) Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi; dan (3) Teori Belajar Gestalt. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme.
e)      Kepribadian
Hingga saat ini para ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat dan komprehensif.. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir 50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang, hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh, sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup :
·         Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
·         Temperamen; yaitu disposisi reaktif seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan.
·         Sikap; sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif atau ambivalen.
·         Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih, atau putus asa.
·         Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan. Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari resiko yang dihadapi.
·         Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Untuk kepentingan layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu yang dilayaninya (klien). Selain itu, seorang konselor juga harus dapat mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Begitu pula, konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Terkait dengan upaya pengembangan belajar klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya pengembangan kepribadian klien, konselor kiranya perlu memahami tentang karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya.

C.    BK KARIR
1.       Pengertian
Menurut Winkel (2005:114)
Bimbingan karir adalah bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dalam memilih lapangan kerja atau jabatan /profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari lapanan pekerjaan yang dimasuki. Bimbingan karir juga dapat dipakai sebagai sarana pemenuhan kebutuhan perkembangan peserta didik yang harus dilihat sebagai bagaian integral dari program pendidikan yang diintegrasikan dalam setiap pengalaman belajar bidang studi. Sumber: http://rasa-stroberi.blogspot.com/2012/06/pengertian-bimbingan-karier-bk-sekolah.html

2.                   TUJUAN BIMBINGAN KARIR
Secara umum tujuan bimbingan Karir dan Konseling adalah sebagai berikut;1)      Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.2) Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi kerja.3)     Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma agama.4)  Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.

3.      FUNGSI BIMBINGAN KARIR
Bimbingan karier di sekolah membantu siswa dalam mengenal dan mengembangkan potensi karier yang dimilikinya. Selain itu bimbingan karier sebagai satu kesatuan proses bimbingan memiliki manfaat yang dinikmati oleh kliennya dalam mengarahkan diri dan menciptakan kemandirian dalam memilih karier yang sesuai dengan kemampuannya.
Fungsi bimbingan karier di sekolah adalah sebagai berikut:
·         Memberikan kemantapan pilihan jurusan kepada siswa, karena penjurusan akan mempersiapkan siswa dalam bidang pekerjaan yang kelak diinginkan.
·         Memberikan bekal pada siswa yang tidak melanjutkan sekolah untuk dapat siap kerja sesuai dengan keinginannya.
·         Membantu kemandirian bagi siswa yang ingin ataupun harus belajar sambil bekerja.

D.    KONSELING LINTAS BUDAYA
1.      Pengertian Lintas Budaya
Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) : psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.
 Dapat diartikan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota di berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman baik individu maupun kelompok, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.(Terista Mia Armita 12141310)

2.      Hubungan komunikasi lintas budaya dan interaksi sosial antara mahasiswa yang berbeda budaya
Istilah “intercultural communication” dalam bahasa Indonesia dipadankan komunikasi antar budaya atau komunikasi lintas budaya. Menurut Rogers dan Steinfatt (1999), kemampuan berkomunikasi antar budaya merupakan kemampuan seseorang untuk bertukar informasi secara efektif dan tepat dengan orang yang berlatar belakang budaya berbeda.
Memiliki kemampuan berkomunikasi didalam lintas budaya sangat penting. Karena komunikasi itu dijadikan sebagai alat untuk berinteraksi dengan beraneka ragam suku di Indonesia. Didalam berinteraksi kita sering menjumpai perbedaan dari segi bahasa, gaya bicara, dan penyampaian kata.sehingga jika kita memahami budaya lain kita akan lebih mudah dalam berinteraksi dengan budaya lain.(Febriani Ika S 12141298)
Sebagai mahluk social tentu kita tidak bisa hidup sendiri karena bagaimanapun kita akan membutuhkan bantuan orang lain. Dalam kondisi seperti ini dimana kita akan berinteraksi dengan orang lain bisa karena keperluan yang sama atau hanya untuk memperoleh sedikit informasi, kita akan berinteraksi dengan cara berbicara dengan orang lain. Saat kita berinteraksi dengan orang lain kita akan menganalisis dengan sendirinya bagaimana cara lawan bicara kita berinteraksi dan mungkin saja cara mereka berinteraksi dan mengeluarkan pendapat berbeda dengan yang selama ini kita ketahui  karena faktor budaya yang kita anut berbeda dengan budaya lawan bicara kita. Perbedaan ini dapat memicu terjadinya konflik jika tidak disertai dengan interaksi dan komunikasi yang efektif dan diikuti dengan rasa menghargai budaya orang lain.
            Ketidakefektifan komunikasi seperti kesalahan pengucapan kata saja bisa memiliki makna yang berbeda pada suatu budaya. Bisa saja suatu kata yang biasa dipakai di suatu budaya dianggap menjadi kata yang tabu di budaya lain.
            Komunikasi merupakan hal penting untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Banyaknya keanekaragaman dalam berkomunikasi dapat memicu adanya kesalahfahaman. Karena di dalam suatu budaya satu dengan yang lainya terkadang berbeda. Setiap budaya memiliki bahasa dan makna yang berbeda beda pula. (Dessinta Arli N. J 12141303)
Contoh kasus adalah Mahasiswi di suatu Perguruan Tinggi, dalam kasus ini banyaknya Mahasiswa IKIP PGRI MADIUN berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang berasal dari negeri tetangga. Seseorang yang hidup dan tinggal dalam suatu komunitas pasti akan melakukan interaksi dengan orang lain. Ketika seorang mahasiswi yang berasal dari Nusa Tenggara Timur dengan perawakan kerasnya bertemu dengan mahasiswi dari Jawa yang dikenal sebagai pribadi cukup halus. Ketika terjadi suatu masalah diantara kedua belah pihak, dengan menganut adat dan budaya mereka yang berbeda. Maka diharapakan bagi diri kita masing-masing dapat menciptakan rasa menerima, menghargai, serta menghormati setiap perbedaan yang ada pada diri kita dan orang orang sekitar, khususnya perbedaan budaya agar tercipta lingkungan yang harmonis, aman, tentram.
Komunikasi lintas budaya menjelaskan derajat perbedaan antar individu berasal dari faktor keanggotaan kelompok budaya, seperti kepercayaan, norma dan cara berinteraksi. Komunikasi lintas budaya menciptakan nilai untuk menentukan mana yang tepat dan mana yang dapat diterima oleh mahasiswa dari budaya lain. Komunikasi lintas budaya membuat manusia dapat berkomunikasi dengan baik dan pada akhirnya, Komunikasi lintas budaya dapat mempererat manusia dengan manusia lain dan memberikan keunikan pada diri manusia dan masyarakat jika dilakukan dengan efektif. Dengan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, saling memahami dan melengkapi sehingga terciptakan perdamaian dan harmonisasi kehidupan melalui lintas budaya.
Lintas budaya dapat dipelajari melalui pendidikan dalam keluarga, sosialisasi nilai-nilai dalam masyarakat baik melalui pergaulan sosial maupun media, dan melalui pembelajaran multikultur, yaitu pembelajaran yang dapat menfasilitasi peserta dalam memahami materi pembelajaran tanpa adanya kendala perbedaan latar belakang cultural (Bryant dalam Mendatu, 1996).
 Lintas budaya bisa dipelajari dimanapun kita berada. Tidak hanya didalam dunia pendidikan saja tetapi kita juga dapat mempelajarinya saat kita bersosialisasi pada antar sesama, bukan hanya itu saja, kita juga dapat mempelajari lintas budaya dari teknologi yang ada. Dari internet misalnya. Ada pula yang melalui pembelajaran multikultural yaitu proses pembelajaran yang dapat membimbing, mengarahkan dan membentuk karakteristik siswa agar memiliki karakteristik terbiasa hidup ditengah tengah perbedaan baik dari segi ideologis maupun perbedaan sosial. (Karunia Puspa Septina Sari 12 141 311)
Bila setiap individu memahami prinsip prinsip yang terdapat dalam komunikasi litas budaya, maka akan tercipta rasa di dalam diri kita untuk menerima dan menghargai setiap perbedaan yang ada, sehingga dapat tercipta kedamaian dalam kehidupan perbedaan. Dalam keanekaragaman budaya terjadi perbedaan karakter, nilai hidup, dll, sehingga mengelola perbedaan merupakan hal penting dalam berhubungan dengan orang lain. Mengelola perbedaan berarti memungkinkan semua orang untuk benteraksi dengan baik.
Komunikasi lintas budaya merupakan modal untuk memahami orang lain, mampu menempatkan diri dalam posisi budaya orang lain dengan tetap menjaga jatidiri budaya sendiri ( adaptasi, toleransi, harmoni dan sinergi budaya) .Seperti yang telah kita bahas dalam bab sebelumnya, komunikasi lintas budaya mengambil andil yang besar dalam penyebab terjadinya konflik di kalangan mahasiswa. Kurangnya minat individu untuk mempelajari dan memahami komunikasi lintas budaya akan berpengaruh besar atas munculnya sikap saling menghargai budaya orang lain sehingga tidak ada suatu hal yang bisa menjadi penyebab konflik antar mahasiswa. Ketidakefektifan komunikasi lintas budaya yang dilakukan juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya konflik yang terjadi dikalangan mahasiswa. Adanya perbedaan makna kata dan juga perbedaan nilai-nilai budaya yang menganggap tabu suatu kata juga dapat memicu terjadinya konflik yang disebabkan perbedaan budaya. Dalam kehidupan umum di luar kehidupan mahasiswa, di beberapa daerah di Indonesia juga terjadi konflik serupa yaitu konflik perbedaan budaya dari suku pendatang dengan suku yang terlebih dahulu bermukim di situ. Banyak pendapat perbedaan budaya ini menjadi tameng sekelompok tertentu sebagai faktor untuk berkonflik demi mendapatkan sumberdaya yang ada di sekitar tempat konflik terjadi.
Perbedaan budaya juga dapat menimbulkan persaingan dengan budaya lainnya, alasannya yaitu menunjukan bahwa budaya daerah mereka berasal adalah yang terbaik. Tentu saja hal ini sebenarnya baik karena mereka bangga akan budaya daerah mereka tetapi jelas hal ini harus diluruskan mengingat Indonesia terdiri dari banyak budaya. Perbedaan budaya juga memiliki dampak positif yaitu untuk mendorong manusia untuk meningkatkan kemampuan individunya agar mampu bersaing dengan orang lain. Selain itu , hal ini dapat menjadi ajang untuk saling mengenalkan setiap budaya dan cara berinteraksi suatu budaya kepada masyarakat luas, sehingga kita semua menjadi sadar bahwa di Indonesia kaya akan budaya yang masing-masing sangat unik dan berbeda sehingga akan tercipta rasa bangga dalam diri kita bahwa kita dilahirkan di Indonesia yang kaya akan segala hal.
Setiap budaya memberi identitas kepada sekelompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam  masing-masing budaya paling tidak harus mampu mengidentifikasi identitas dari masing-masing budaya.
            Didalam suatu budaya terdapat identitasnya masing-masing oleh karena itu apabila suatu kelompok budaya lain ingin masuk kedalam kelompok budaya lainnya maka harus mengetahui dan memahami lebih dahulu identitas budaya tersebut sehingga kita lebih mudah berinteraksi dengan kelompok budaya lainnya. Contoh identitasnya antara lain: bahasa, penampilan,  kebiasaan makan, nilai/norma dan sikap. (Novia Sundari 12141293)

3.      Cara Mengatasi Konflik Karena Adanya Perbedaan Budaya
Konflik antar mahasiswa yang disebabkan oleh perbedaan budaya tidak boleh dibiarkan terus berlanjut karena dapat menjadi masalah besar. Konflik ini harus segera diselesaikan dan diminimalisir peluang dapat terjadi kembali di masa depan. Beberapa solusi agar konflik dapat dihindari :
a.        Diadakan kegiatan ekpo budaya daerah
Kegiatan semacam acara pergelaran seni budaya daerah sangat perlu dilakukan karena kegiatan ini dapat mengenalkan suatu budaya daerah pada masyarakat , dalam hal ini mahasiswa tentang budaya lain yang diharapkan akan tercipta rasa saling menghargai dan menghormati sesama mahasiswa yang berbeda budaya.
b.      Kegiatan keakraban yang melibatkan sekelompok mahasiswa daerah
Diadakan kegiatan keakraban seperti olahraga pertandingan sepak bola antar daerah di dalam kampus untuk saling berbaur dan menjunjung rasa sportifitas dan persahabatan diantara mereka.
c.       Tidak adanya pembatasan kreativitas
Tidak kelompok atau oknum yang membatasi kreativitas suatu komunitas  budaya   sehingga saling tercipta rasa menghargai dan menghormati, asalkan kereativitas yang dilakukan tidak menganggu hak hak kelompok budaya lain.
d.      Menciptakan rasa aman di lingkungan
Lingkungan yang aman untuk mahasiswa yang berbeda budaya akan memacu untuk saling mengenal budaya lain sehingga akan timbul rasa menghargai




E.     BIMBINGAN BELAJAR
1.      PENGERTIAN BIMBINGAN BELAJAR
Pengertian bimbingan belajar adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan bantuan kepada para peserta didik agar bisa mendapatkan prestasi atau hasil belajar yang lebih optimal di lembaga tempat mereka menuntut ilmu. Bimbingan belajar biasanya diberikan oleh pihak sekolah sebagai lembaga pendidik anak.

2.      Tujuan bimbingan belajar
Lembaga bimbingan belajar adalah salah satu cara terbaik untuk mengatasi masalah belajar anak. Di lembaga bimbingan belajar biasanya anak akan mendapatkan beberapa cara untuk belajar yang optimal dan efisien yang biasa diajarkan oleh para mentor.
Berikut ini adalah tujuan dari mengikuti lembaga bimbingan belajar:
·         Agar siswa mendapatkan pelajaran mengenai kebiasaan belajar yang baik dan efisien. Di lembaga belajar anak akan mendapatkan kebiasaan untuk membaca buku, disiplin dalam mengerjakan tugas-tugas dan lebih berkonestrasi pada apa yang sedang diterangkan oleh mentor/guru.
·         Memiliki kebiasaan belajar yang tinggi.
·         Anak dituntut untuk memahami teknik belajar yang efektif untuk dirinya sehingga proses belajar akan lebih efisien dan tidak membosankan.
·         Membuat anak menjadi memiliki keterampilan untuk merencanakan alur pendidikan yang akan ditempuhnya.
·         Membuat anak menjadi lebih disiplin dalam mengikuti jadwal.
·         Mendapatkan mental yang siap untuk melalui ujian dengan hasil yang optimal.
·         Membangun rasa tanggung jawab anak terhadap dirinya sendiri.
·         Mengembangkan potensi anak yang selama ini mungkin tidak terlihat oleh orang tua.

3.      MAMFAAT BELAJAR
·         Bimbingan Belajar Membantu Anak dalam Menyerap Pelajaran
Bimbingan belajar memiliki tujuan untuk memberikan kemudahan pada anak dalam mengatasi persoalan pelajaran yang mereka anggap sulit.
Dengan bantuan tentor, persoalan itu akan dikupas tuntas dan sang anak pasti akan lebih mudah memahami dan menyerap pelajaran sehingga tidak merasa kesulitan dengan soal yang tengah dihadapi.
·         Waktu Luang Anak Akan Diisi dengah Hal Positif
Selain mendapatkan keuntungan dalam bidang akademik, mengikut bimbingan belajar juga akan mengarahkan anak untuk mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat.
Anak akan terhindar dari pergaulan yang negatif karena di bimbel hampir semua waktunya akan habis untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang positif seperti belajar, membaca buku dan menganalisa soal-soal yang sulit.
·         Membuat Anak Lebih Aktif dan Pandai Bersosialisasi
Saat mengikuti bimbel, anak akan mendapatkan banyak teman baru. Dengan begini mereka akan menjadi anak yang lebih aktif dan pandai dalam bersosialisasi.
Saat di bimbel, anak akan lebih berani untuk bertanya kepada tentor karena tentor memiliki sifat yang lebih terbuka daripada guru di sekolah. Dengan begini maka akan terbentuk karakter anak yang berani dan tidak minder.
·         Di Bimbel Anak Mendapatkan Pergaulan Positif
Selama berada di bimbel anak akan mendapatkan pergaulan yang positif bersama dengan teman-teman sebayanya.
Orang tua tidak perlu khawatir dengan pergaulan anak selama di bimbel. Karena sama seperti di sekolah, bimbel pun mengawasi anak agar tidak bertindak atau berkelakuan negatif.
















TEMA 2

A.    PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM
1.      Bimbingan Konseling Islam
Secara sederhana, gabungan dari masing-masing isitilah dari poin A dan B tersebut dapat dikaitkan satu dengan lainnya sehingga menjadi sebutan Bimbingan Konseling Islam. Dalam hal ini, Bimbingan Konseling Islam sebagaimana dimaksudkan di atas adalah terpusat pada tiga dimensi dalam Islam,
yaitu ketundukan, keselamatan dan kedamaian. Batasan lebih spesifik, Bimbingan Konseling Islam dirumuskan oleh para ahlinya secara berbeda dalam istilah dan redaksi yang digunakannya, namun sama dalam maksud dan tujuan, bahkan satu dengan yang lain saling melengkapinya. Berdasarkan beberapa rumusan tersebut dapat diambil suatu kesan bahwa yang dimaksud dengan Bimbingan Konseling Islam adalah suatu proses pemberian bantuan secara terus menerus dan sistematis terhadap individu atau sekelompok orang yang sedang mengalami kesulitan lahir dan batin untuk dapat memahami dirinya dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya sehingga dapat hidup secara harmonis sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah dan Rasul-Nya demi tercapainya kebahagiaan duniawiah dan ukhrawiah.[4]
Pengertian tersebut antara lain didasarkan pada rumusan yang dikemukakan oleh H.M. Arifin, Ahmad Mubarok dan Hamdani Bakran Adz-Dzaki. Bahkan pengertian yang dimaksudkannya adalah mencakup beberapa unsur utama yang saling terkait antara satu dengan lainnya, yaitu: konselor, konseli dan masalah yang dihadapi. Konselor dimaksudkan sebagai orang yang membantu konseli dalam mengatasi masalahnya di saat yang amat kritis sekalipun dalam upaya menyelamatkan konseli dari keadaan yang tidak menguntungkan baik untuk jangka pendek dan utamanya jangka panjang dalam kehidupan yang terus berubah. Konseli dalam hal ini berarti orang yang sedang menghadapi masalah karena dia sendiri tidak mampu dalam menyelesaikan masalahnya. Menurut Imam Sayuti Farid, konseli atau mitra bimbingan konseling Islam adalah individu yang mempunyai masalah yang memerlukan bantuan bimbingan dan konseling. Sedangkan yang dimaksudkan dengan masalah ialah suatu keadaan yang mengakibatkan individu maupun kelompok menjadi rugi atau terganggu dalam melakukan sesuatu aktivitas.
Dalam pandangan Farid Hariyanto (Anggota IKI jogjakarta) dalam makalahnya mengatakan bahwa bimbingan dan konseling dalam Islam adalah landasan berpijak yang benar tentang bagaimana proses konseling itu dapat berlangsung baik dan menghasilkan perubahan-perubahan positif pada klien mengenai cara dan paradigma berfikir, cara menggunakan potensi nurani, cara berperasaan, cara berkeyakinan dan cara bertingkah laku berdasarkan wahyu dan paradigma kenabian (Sumber Hukum Islam).[6]

2.      Tujuan Bimbingan Konseling Islam Menurut Para Tokoh
Thohari Musnamar membagi tujuan bimbingan dan konseling Islami menjadi tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan umum dari bimbingan dan konseling Islami adalah membantu individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Tujuan khusus bimbingan dan konseling Islami adalah ;
a. Membantu individu agar tidak menghadapi masalah
b. Membantu individu mengatasi masalah yang dihadapi
c. Membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi dan kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi dirinya dan orang lain.

Tujuan konseling Islami menurut Hamdani Bakran Adz-Dzuki, adalah
1. Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan, kesehatan, dan kebersihan jiwa dan mental. Jiwa menjadi tenang, jinak dan damai (muthmainah), bersikap lapang dada (radhiyah) dan mendapatkan pencerahan taufik dan hidayah Tuhannya (mardhiyah)
2.  Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan dan kesopanan, tingkah laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga, lingkungan kerja, maupun lingkungan social dan alam sekitarnya
3. Untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi) pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi, kesetiakawanan, tolong-menolong dan rasa kasih saying
4. Untuk menghasilkan kecerdasan spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan untuk berbuat taat kepada Tuhannya, ketulusan mematuhi segala perintah-Nya, serta ketabahan untuk menerima ujian-Nya
5. Untuk menghasilkan potensi ilahiyyah, sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah dengan baik, menanggulangi berbagai persoalan hidup dan dapat memberikan kemanfaatan dan keselamatan bagi lingkungan pada berbagai aspek kehidupan.


TEMA 3
A.    PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
1.      Pengertian
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN – Psikologi Perkembangan adalah salah satu disiplin ilmu dalam psikologi, seperti ilmu psikologi klinis, ilmu psikologi sosial, ilmu psikologi industri, psikologi eksperimental, psikologi pendidikan, psikologi faal dan ilmu-ilmu lainnya yang lebih spesifik.Psikologi perkembangan sering juga disebut psikologi genetika karena memang bidang cakupnya bersangkut paut dengan asal usul dan hakekat pertumbuhan suatu tingkah laku.

2.      TUJUAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Dewasa ini psikologi perkembangan menurut P.H. Mussen, J.J. Conger dan J. Kagan, menitik beratkan usaha-usaha untuk mengetahui sebab-sebab atau dasar-dasar dari pertumbuhan dan perkembangan manusia yang menyebabkan timbulnya perubahan. Karena itu, tujuan psikologi perkembangan menurut Mussen dkk. meliputi:
·         Memerikan, mengukur, dan menerangkan perubahan dan transformasi dalam tingkah laku dan kemampuan yang sedang berkembang sesuai dengan tingkat umur dan yang mempunyai ciri-ciri universal, artinya yang berlaku bagi anak-anak dimana saja dan dalam lingkungan sosial budaya mana saja. Misalnya anak-anak di mana saja di dunia akan memperlihatkan reaksi takut pada usia antara 8 samapai 12 bulan. Atau kemampuan anak-anak untuk bisa berjalan di mana saja di dunia berkisar pada usia 13 tahun.
·         Mempelajari perbedaan-perbedaan yang bersifat pribadi pada tahapan taua masa perkembangan tertentu. Misanya banyak anak pada umur 8 bulan sangat lekat dan bergantung sekali pada ibunya sehingga si anak akan berteriak-teriak dan amenangis bilamana ditinggal oleh ibunya, sedangkan banyak anak lain tidak demikian. Banyak anak sudah bisa mengucapkan 10 kata pada misalnya umur 1½ tahun, sedangkan anak lain tidak.
·         Mempelajari tingkah laku anak pada lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi yang berbeda. Misalnya seornag anak yang mudah mengalami frustasi di lingkungan sosialnya, sedangkan lingkungan rumah tidak atau sebaliknya.
·         Psikologi perkembangan seperti juga ilmu psikologi lainnya atau disiplin-disiplin lainnya berusaha mempelajari penyimpangan dari tingkah laku yang dialami seseorang, seperti misalnya kenakalan-kenakalan, kelainan-kelainan dalam fungsionalitas inteleknya dan lain-lain.

3.      Kegunaan psikologi perkembangan.
Berikut ini akan dikemukakan kegunaan psikologi perkembangan sebagai berikut:
·         Dengan mempelajari psikologi, orang akan mengetahui fakta-fakta dan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku manusia.
·         Untuk memahami diri kita sendiri dengan mempelajari psikologi sedikit banyak orang akan mengetahui kehidupan jiwanya sendiri, baik segi pengenalan, perasaan, kehendak, maupun tingkah laku lainnya.
·         Dengan mengetahui jiwanya dan memahami dirinya itu maka orang dapat menilai dirinya sendiri.
·         Pengenalan dan pemahaman terhadap kehidupan jiwa sendiri merupakan bahan yang sangat penting untuk dapat memahami kehidupan jiwa orang lain.
·         Dengan bekal pengetahuan psikologi juga dapat dipakai sebagai bahan untuk menilai tingkah laku normal, sehingga kita dapat mengetahui apakah tingkah laku seseorang itu sesuai tidak dengan tingkat kewajarannya, termasuk tingkat kenormalan tingkah laku kita sendiri.


B.     PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
1.      PENGERTIAN
Psikologi Kepribadian adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang kepribadian manusia melalui tingkah laku atau sikap sehari-hari yang menjadi ciri khas seseorang tersebut. Kepribadian merupakan salah satu bagian atau ciri khas yang istimewa dan sangat penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu Psikologi Kepribadian adalah hal yang sangat penting untuk dipelajari.
Pengertian kepribadian adalah ciri – ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus, yang dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkan secara lahir, konsisten dan konskuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa individu tersebut memiliki identitas khusus yang berada dari individu – individu. ( Koetjaraningrat, 1985:102).
Menurut Yinger kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.

2.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepribadian
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian antara lain:
1.      Faktor Biologis
Faktor biologis merupakan faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau seringkali pula disebut faktor fisiologis seperti keadaan genetik, pencernaan, pernafasaan, peredaran darah, kelenjar-kelenjar, saraf, tinggi badan, berat badan, dan sebagainya. Kita mengetahui bahwa keadaan jasmani setiap orang sejak dilahirkan telah  menunjukkan adanya perbedaan-perbedaan. Hal ini dapat kita lihat pada setiap bayi yang baru lahir. Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang diperoleh dari keturunan, dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu masing-masing. Keadaan fisik tersebut memainkan peranan yang penting pada kepribadian seseorang.
2.      Faktor Sosial
Faktor sosial yang dimaksud di sini adalah masyarakat ; yakni manusia-manusia lain disekitar individu yang bersangkutan. Termasuk juga kedalam faktor sosial adalah tradisi-tradisi, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahasa, dan sebagainya yang berlaku dimasyarakat itu.
Sejak dilahirkan, anak telah mulai bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Dengan lingkungan yang pertama adalah keluarga. Dalam perkembangan anak, peranan keluarga sangat penting dan menentukan bagi pembentukan kepribadian selanjutnya. Keadaan dan suasana keluarga yang berlainan memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula terhadap perkembangan kepribadian anak.
Pengaruh lingkungan keluarga terhadap perkembangan anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya. Hal ini disebabkan karena pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama, pengaruh yang diterima anak masih terbatas jumlah dan luasnya, intensitas pengaruh itu sangat tinggi karena berlangsung terus menerus, serta umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana bernada emosional. Kemudian semakin besar seorang anak maka pengaruh yang diterima dari lingkungan sosial makin besar dan meluas. Ini dapat diartikan bahwa faktor sosial mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan kepribadian.
3.      Faktor Kebudayaan
 Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada diri masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di mana seseorang itu dibesarkan. Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain:
a.       Nilai-nilai (Values)
Di dalam setiap kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu.
b.      Adat dan Tradisi.
Adat dan tradisi yang berlaku disuatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai yang harus ditaati oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak dan bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang.
c.       Pengetahuan dan Keterampilan.
Tinggi rendahnya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu masyarakat mencerminkan pula tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin tinggi kebudayaan suatu masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara-cara kehidupannya.
d.      Bahasa
Di samping faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa merupakan salah satu faktor yang turut menentukan cirri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki bahasa itu. Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat menunukkan bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul dengan orang lain.
e.       Milik Kebendaan (material possessions)
Semakin maju kebudayaan suatu masyarakat/bangsa, makin maju dan modern pula alat-alat yang dipergunakan bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia yang memiliki kebudayaan itu.

3.      Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian

Perkembangan kepribadian menurut Jean Jacques Rousseau berlangsung dalam beberapa tahap yaitu:
1.      Tahap perkembangan masa bayi (sejak lahir- 2 tahun)
Tahap ini didominasi oleh perasaan.Perasaan ini tidak tumbuh dengan sendiri melainkan berkembang sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi terhadap stimulus lingkungan.
2.      Tahap perkembangan masa kanak-kanak (umur 2-12 tahun)
Pada tahap ini perkembangan kepribadian dimulai dengan makin berkembangnya fungsi indra anak dalam mengadakan pengamatan.
3.      Tahap perkembangan pada masa preadolesen (umur 12- 15 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Anak mulai kritis dalam menanggapi ide orang lain. anak juga mulai belajar menentukan tujuan serta keinginan yang dapat membahagiakannya.
4.      Tahap perkembangan masa adolesen (umur 15- 20 tahun)
Pada masa ini kualitas hidup manusia diwarnai oleh dorongan seksualitas yang kuat, di samping itu mulai mengembangkan pengertian tentang kenyataan hidup serta mulai memikirkan tingkah laku yang bernilai moral.
5.      Tahap pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
Pada tahap ini perkembangan fungsi kehendak mulai dominan.Mulai dapat membedakan tujuan hidup pribadi, yakni pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, serta pemuasan keinginan masyarakat.Pada masa ini terjadi pula transisi peran social, seperti dalam menindaklanjuti hubungan lawan jenis, pekerjaan, dan peranan dalam keluarga, masyarakat maupun Negara. Realisasi setiap keinginan



C. PENGERTIAN PSIKOLOGI KELUARGA
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya
Menurut Salvicion dan Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan
Terdapat beberapa definisi keluarga dari beberapa sumber, yaitu:
1. Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan, 1986).
2. Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
3.  Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988)

2.      FUNGSI PSIKOLOGI KELUARGA
Keluarga memiliki fungsi yang sangat vital untuk anggota keluarga. Paling tidak terdapat 8 fungsi keluarga yaitu fungsi pendidikan, sosial, agama, ekonomi, perlindungan, kasih sayang, rekreasi dan fungsi biologis.
1. Fungsi Pendidikan
Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam memperoleh pendidikan. Melalui keluarga diperkenalkan cara berbicara, cara mengenal lingkungan, dan pengetahuan dasar lainnya. Keluarga juga menjadi pendorong anggota keluarga untuk mendapatkan pendidikan formal, non formal dan informal.
2. Fungsi Sosial
Sebagai unit terkecil dari masyarakat keluarga berperan untuk menjadi tempat interakasi sosial pertama. Mengajarkan tentang cara berinteraksi yang seharusnya, bagaimana bersikap dan saling menghargai. Pola interaksi sosial dalam lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh dalam melakukan interkasi sosial pada lingkungan yang lebih luas.
3. Fungsi Agama
Keluarga merupakan tempat pertama kali memperkenalkan tentang agama. Cara melaksanakan ibadah sesuai perintah agama. Tentang perintah dan larangan dalam agama, dan segala aspek yang berhubungan dengan agama. Paling penting adalah keluarga menjadi contoh dalam praktek pelaksanaan ritual keagamaan.
4. Fungsi Ekonomi
Keluarga memiliki fungsi ekonomi dalam hal pemenuhan kebutuhan dan pengaturan keuangan. Dalam keluarga harus ada sistem keuangan yang mengatur keseimbangan antara jumlah pemasukan dan pengeluaran agar pemenuhan kebutuhan primer dapat terpenuhi.
5. Fungsi Perlindungan
Keluarga memiliki fungsi perlindungan untuk memberikan perlindungan kepada anggota keluarga terhadap kemungkinan ancaman dari luar. Ancaman dari lingkungan sosial sangat beragam seperti penyimpanan dari norma, pergaulan tidak sehat dan ancaman terhadap tindakan kekerasan fisik.
6. Fungsi Kasih Sayang
Keluarga menjadi tempat pertama mendapatkan kasih sayang. Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam mengenal cinta, menyalurkan emosi dan berbagi kebahagiaan. Rasa kasih sayang didapatkan dari perhatian, tindakan, dan bahkan berupa larangan-larangan sebagai bagian dari fungsi perlindungan.
7. Fungsi Rekreasi
Lingkungan keluarga merupakan tempatyang paling tepat untuk memperoleh keceriaan. Tempat menyandarkan penat ketika lelah bekerja. Tempat untuk mendapatkan ketenangan ketika mendapatkan masalah diluar, seperti sekolah, tempat kerja, dan lingkungan sosial lainnya.
8. Fungsi Biologis
Keluarga merupakan tempat untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan biologis dan fisiologis. Kebutuhan seperti makan, minum, istirahat dan lainnya. Tempat terbaik untuk terus tumbuh dan berkembang.                                       

3.      Ruang lingkup
 psikologi keluarga adalah sebagai berikut:
·         Manajemen
Psikologi keluarga mengkaji manajemen dalam keluarga untuk memudahkan dalam membuat aturan yang berhubungan dengan kesejahteraan keluarga. Manajemen keluarga meliputi manajemen keuangan, manajemen tugas, manajemen pemenuhan kebutuhan dan lainnya.
·         Komunikasi
Komunikasi menjadi bagian penting dari objek kajian psikologi. Dalam keluarga komunikasi menjadi sangat penting agar sesama anggota keluarga mampu membangun interaksi dengan dasar saling memahami karakteristik masing-masing.
·         Pengembangan potensi
Pengembangan potensi anggota keluarga merupakan menjadi bagian dari kajian psikologi. Bagaimana keluarga memberikan dukungan secara mental dan finansial agar anggota keluarga mampu mengembangkan potensi dengan maksimal.
·         Strategi mengatasi permasalahan
Masalah adalah sesuatu yang pasti terjadi, baik itu dilingkungan sosial maupun dilingkungan masyarakat. Peran psikologi membantu mengatasi masalah yang terjadi dalam keluarga dengan pendekatan yang sangat humanis.
·         Tanggung Jawab
Sebagai tempat pertama kali belajar tentang tanggung jawab. Kajian psikologi tentang tanggung jawab sangat penting dilakukan dalam keluarga. Seseorang yang terbiasa memegang tanggung jawab biasanya akan melakukan hal yang sama dilingkungan sosial yang lebih luas.

4.      MAMFAAT PSIKOLOGI KELUARGA
Manfaat psikologi keluarga baik sebagai pelajaran teoritis maupun praktek dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut:
·         Memudahkan dalam interaksi sesama anggota keluarga.
·         Memudahkan untuk saling memahami karakter dan kepribadian masinG
·         masing anggota keluarga.
·         Memudahkan untuk memahami perbedaan, baik dari segi cara berpikir, kebutuhan, dan tanggung jawab.


TEMA 4
AYAT AL QUR’AN DAN HADIS
Beberapa ayat al-Quran yang berhubungan dengan bimbingan konseling diantaranya adalah:

    وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[[7]], merekalah orang-orang yang beruntung”. (Ali Imran:104)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalann-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl:125)
Kata konseling dalam bahasa arab adalah al-Irsyad yang secara etimologi berarti al-Huda, ad-Dalalah, dalam bahasa indonesia berarti : petunjuk. Kata al-Irsyad menjadi satu dengan al-Huda dapat dilihat dalam surah al-Kahfi (18) ayat 17, dan kata al-Irsyad secara sendiri dapat dilihat dalam surah al-Jin (72) ayat 2. Inti makna surah al-Kahfi (18) ayat 17 adalah : Allah-lah yang memberi petunjuk kepada manusia akan jalan kebenaran. Sedangkan inti makna Surah al-Jin (72) ayat 2 adalah: Alah menjelaskan bahwa al-Qur’an sebagai pedoman yang memberi petunjuk kepada jalan kebenaran, yakni sebagai berikut:
غَرَبَت وَإِذَا الْيَمِينِ ذَاتَ كَهْفِهِمْ عَن تَّزَاوَرُ طَلَعَت إِذَا الشَّمْسَ وَتَرَى
 فَهُوَ اللَّهُ يَهْدِ مَن اللَّهِ آيَاتِ مِنْ ذَلِكَ مِّنْهُ فَجْوَةٍ فِي وَهُمْ الشِّمَالِ ذَاتَ تَّقْرِضُهُمْ
 -١٧- مُّرْشِداً وَلِيّاً لَهُ تَجِدَ فَلَن يُضْلِلْ وَمَن الْمُهْتَدِ
Artinya: “Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa Disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

                      -٢- أَحَداً بِرَبِّنَا نُّشْرِكَ وَلَن بِهِ فَآمَنَّا الرُّشْدِ إِلَى يَهْدِي
Artinya: “(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami”
Berkenaan dengan dimensi  spiritual dalam konseling Islami, Allah ditempatkan pada posisi Konselor Yang Maha Agung, satu-satunya tempat manusia menyerahkan diri dan permasalahannya, sebagai sumber penyelesaian masalah, sumber kekuatan dan pertolongan, sumber kesembuhan. Pengertian ini jelas terungkap isyaratnya dalam surah al-Baqarah (2) ayat 112, 156, 255, 284, Surah ali-Imran (3) ayat 159-160, Surah at-Talaq (65) ayat 3-4, sebagai berikut:
مَا لَّهُ نَوْمٌ وَلاَ سِنَةٌ تَأْخُذُهُ لاَ الْقَيُّومُ الْحَيُّ هُوَ إِلاَّ إِلَـهَ لاَ اللّهُ
 مَا يَعْلَمُ بِإِذْنِهِ إِلاَّ عِنْدَهُ يَشْفَعُ الَّذِي ذَا مَن الأَرْضِ فِي وَمَا السَّمَاوَاتِ فِي
 وَسِعَ شَاء بِمَا إِلاَّ عِلْمِهِ مِّنْ بِشَيْءٍ يُحِيطُونَ وَلاَ خَلْفَهُمْ وَمَا أَيْدِيهِمْ بَيْنَ
 -٢٥٥- الْعَظِيمُ الْعَلِيُّ وَهُوَ حِفْظُهُمَا يَؤُودُهُ وَلاَ وَالأَرْضَ السَّمَاوَاتِ كُرْسِيُّهُ
Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia.Yang Maha Hidup, Yang terus menerus Mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia Mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia Kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat Memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”
Inti makna surah al-Baqarah (2) ayat 255 adalah Allah menegaskan akan kekuasaannya terhadap seluruh alam. Ia secara terus-menerus mengurus makhluknya. Hanya dialah penguasa sebagai pemberi pertolongan, dan hanya dia yang berhak disembah.
مِنْ لاَنفَضُّواْ الْقَلْبِ غَلِيظَ فَظّاً كُنتَ وَلَوْ لَهُمْ لِنتَ اللّهِ مِّنَ رَحْمَةٍ فَبِمَا
 فَتَوَكَّلْ عَزَمْتَ فَإِذَا الأَمْرِ فِي وَشَاوِرْهُمْ لَهُمْ وَاسْتَغْفِرْ عَنْهُمْ فَاعْفُ حَوْلِكَ
 لَكُمْ غَالِبَ فَلاَ اللّهُ يَنصُرْكُمُ إِن -١٥٩- الْمُتَوَكِّلِينَ يُحِبُّ اللّهَ إِنَّ اللّهِ عَلَى
 فَلْيَتَوَكِّلِ اللّهِ وَعَلَى بَعْدِهِ مِّن يَنصُرُكُم الَّذِي ذَا فَمَن يَخْذُلْكُمْ وَإِن
 -١٦٠- الْمُؤْمِنُونَ
Artinya: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah Mencintai orang yang bertawakal. (159) Jika Allah Menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah Membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal. (160).
   Contoh Perubahan Tingkah Laku Dalam Al-Qur’an Sebagai Kunci Keberhasilan Proses Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan telaah heuristik terhadap 6666 ayat-ayat al-Qur’an ditemukan 290 ayat yang memiliki kandungan nilai konseling. Semua ayat yang ditemukan secara implisit menunjukkan adanya perubahan tingkah laku. Jumlah ayat-ayat al-Qur’an hasil temuan dijabarkan peneliti berdasarakan model A-R sesuai jumlah perubahan tingkah laku yang merupakan kunci keberhasilan proses bimbingan dan konseling. Dari contoh tersebut seorang petugas bimbingan di lapangan akan dapat memilih satu atau beberapa untuk diterapkan dalam proses bimbingan dan konseling untuk melakukan pengubahan tingkah laku terhadap klien.
Penjabaran kedalam model A-R bertujuan untuk memudahkan pembahasan dan pemahaman hasil temuan. Ayat-ayat Al-qur’an yang ditemukan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1: Jumlah Temuan Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Konseling
Perubahan
Tingkah laku
Jumlah Ayat
Model A
41 ayat (QS. Yusuf (12): 8,11-18,59-66,70-83,87-92,97)
Model B
9 ayat (QS.Yusuf (12): 36-41)
Model C
4 ayat (QS. Al-Qashash (28): 34-35, QS. Thaha (20): 25-32, QS. Al-a’raf (7): 142-154, QS. Thaha (20): 86-88,96-97,155)
Model D
5 ayat (QS. Al-An’am (6): 75-78)
Model E
14 ayat (QS. Al-Qashash (28): 15-22,33, QS.Asy-Syu’ara (26): 18-22)
Model F
9 ayat (QS. Al-Baqarah (20): 35-38, Thaha (20): 115,120,122, QS. Al-A’raf (7): 23)
Model G
22 ayat (QS. Al-a’raf (7): 85-93, QS. Hud (11): 84, QS. Asy-Syu’ara (26): 181-190, QS. Al-Ankabut (29): 36-28)
Model H
30 ayat (QS. Al-Qashash (28): 34-35, QS. Thaha (20): 25-32, QS. Al-A’raf (7): 142-154, QS. Thaha (20): 86-88,96-97,155)
Model I
4 ayat (QS. Al-Baqarah (2): 219, QS. An-Nisa’ (4): 43, QS. Al-Ma’idah (5): 90-91)
Model J
22 ayat (QS. An-Naml (27): 23-44)
Model K
1 ayat (QS. Al-An’am (6): 75-78)
Model L
7 ayat (QS. Al-Anbiya’ (21): 83-84, QS. Shad (38): 41-44)
Model M
26 ayat (QS. Hud (11): 25-34,36-48, QS. Al-Ankabut (29): 14, QS. At-Tahrim (66): 10)
Model N
18 ayat (QS. Al-An’am (6): 75-78)
Model O
20 ayat (QS. Al-Anbiya’ (21): 52-71)
Model P
25 ayat (QS. Hud (11): 50-54,58-60, Al-A’raf (7): 66-70, QS. Asy-Syu’ara’ (26): 182-135, QS. Al-Hijr (15): 41,14-15, QS. Al-Ahqaf (46): 24-25)
Model Q
20 ayat (QS. Fushshilat (41): 17, QS. Al-A’raf (7): 73-79, QS. Hud (11): 61-68, QS. Al-Isra’ (17): 52-53)
Model R
10 ayat( QS. An-Nur (24): 11-20
JUMLAH
290 Ayat
Dari hasil temuan dapat ditemui bahwa untuk membantu klien, khususnya klien yang beragama Islam teknik efektif untuk mengubah tingkah laku klien adalah membuka kesadaran klien.Kesadaran ini dapat diwujudkan dengan intervensi kognitif, afektif maupun aksi.




SUMBER


HANYA INI YANG DAPAT SAYA TAMPILKAN UNTUK TUGAS FINAL ICT BK. UNTUK MATERI LAIN SILAHKAN LIHAT TULISAN SEBELUMNYA


SAYA  HUBUNGKAN LINK INI DENGAN GOOGLE DAN WIKIPEDIA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar