A. KONSELING KEPRIBADIAN
1.
Teori Psikoanalisis Klasik (Sigmun
Freud)
Psikoanalisis dapat
diartikan sebagai analisa jiwa. Teori psikoanalisis klasik pertama kalinya
ditemukan oleh Sigmun Freud di tahun 1986, yang mana pada masa itu teori
psikoanalisis merupakan teori baru yang meninjau tentang manusia yang
menganggap bahwa ketidaksadaran menjadi peran penting untuk memahami perilaku
dan kepribadian manusia. Freud mengartikan psikoanalisis dalam tiga arti,
antara lain adalah:Psikoanalisis digunakan untuk menunjukkan sebuah metode
penelitian terhadap proses psikis, misalnya saja seperti mimpi. Hal ini tak
pernah dijangkau oleh penelitian ilmiah sebelumnya.Psikoanalisis dapat
ditunjukkan sebagai salaha satu teknik yang digunakan untuk mengobati
gangguan-gangguan psikis yang dialami oleh klien neorotis.
Psikoanalisis digunakan
untuk menunjukkan seluruh pengetahuan mengenai psikologis baik yang di dapatkan
melalui metode atau teknik.Teori psikoanalisis menjadi salah satu teori
psikologi kepribadian yang paling komprehensif dibandingkan teori lainnya.
Freud mendeskripsikan kepribadian ke dalam 3 pokok bahasa, yaitu struktur
kepribadian, perkembangan keperibadian, serta dinamika kepribadian. (baca juga:
Persepsi Dalam Psikologi)
2.
Teori Kepribadian Alfred Adler
Teori kepribadian
lainnya datang dari Alfred Adler. Menurut Adler, manusia merupakan makhluk
individual yang termotivasi oleh dorongan-dorongan sosial yang memang sudah
dibawa ketika lahir. Alfred Adler merupakan pelopor dalam ilmu psikologi yang
membahas tentang teori bawah sadar yang merupakan bagian penting di dalam sebuah
kepribadian seseorang.Teori Adler sendiri sangat bertentangan dengan teori
Freud, yang mana lebih menunjukkan bahwa tingkat kesadaran individu mendorong
untuk selalu menjadi sukses dan terbaik. Bila mereka mau bekerja keras, maka
mereka dapat sukses, begitupun sebaliknya.
Adler juga menerapkan
teori urutan lahir untuk memprediksi kepribadian seseorang. Adler yakin bahwa
keturunan, lingkungan, dan kreatifitas di dalam lingkungan mmampu membantuk
kepribadian seseorang. Berikut ini penggambaran sifat anak yang didasarkan pada
urutan lahir:
Anak pertama: Lebih bersifat menjaga,
mengatur dengan baik, memiliki kecemasan yang tinggi, pengkritik, serta mampu
melindungi.
Anak kedua: memiliki motibvasi yang
tinggi, senang bersaing, pemberontak, mudah putus ada, serta dapat bekerja
sama.
Anak bungsu: realistis, manja,
tergantung dengan yang lain, serta ambisius.
Anak tunggal: manja, takut bersaing,
berusaha menjadi pusat perhatian, namun dewasa secara sosial.
3.
Teori Kepribadian Karen Horney
Sebenarnya, Horney
merupakan salah satu pengikut dari Teori Freud. Namun dengan berjalannya waktu,
Freud mulai terpengaruh dengan teori Adler dan Jung sehingga lebih
mengembangkan pendekatan kepribadian holistik. Horney memperlihatkan cara
pandang yang berbeda mengenai neurosis. Menurutnya, terdapat hubungan yang
jelas antara neurosis dengan kehidupan sehari-hari. Neurosis juga sebenarnya
merupakan cara yang manusia gunakan untuk menjalani hubungan dengan lainnya.
Namun hanya sebagian saja yang bisa melakukan hal tersebut dengan baik.
4.
Teori Kepribadian Harry Stack Sullivan
` Menurut Harry Stack Sullivan, kepribadian
merupakan sebuah hipotesa, sehingga tak dapat diamati secara terpisah melalui
situasi yang interpersonal. Kerangka konsep dari teori Sullivan adalah mengenai
perkembangan kepribadian. Sullivan fokus terhadap sebuah pandangan yang
bersifat psikologi sosial tentang perkembangan kepribadian. Yang kemudian
pandangan tersebut memiliki pengaruh-pengaruh tertentu terkait dengan manusia
yang berperan sebagaimana mestinya. Sehingga membuat faktor sosial sebagai
penentu dari perkembangan psikologis. Konteks yang dikemukakan oleh Sullivan
tak mempelajari mengenai person manusia melainkan kepada situasi
interpersonalnya. Bagian dari pribadi seseorang lebih banyak berasal dari
kejadian-kejadian interpersonal dibandingkan dengan kejadian intrapsikis.
Kepribadian adalah
pusat dinamika, yang di dalamnya ada bermacam-macam proses yang terjadi pada
seni interpersonal. Dinamika merupakan karakter yang ada di dalam diri manusia,
dinamika inilah yang akan memberikanwatak pada hubungan interperseonal
manusia.
5.
Teori Erich Fromm
Teori kepribadian
lainnya berasal dari Erich Fromm, keunikan dari teori ini adalah penggabungan
dari teori Freud dan Mark. Pada teori Freud, lebih memfokuskan pada alam bawah
sadar, kebutuhan biologis, dan lainnya. Freud menyatakan bahwa karakter manusia
sangat ditentukan pada aspek biologisnya. Sedangkan di dalam teori Mark,
karakter manusia terbentuk dari lingkungan serta manusia yang berada di dalam
lingkungannya. Fromm melengkapi kedua teori ini dengan sistem deterministik
yaitu mengenai kebebasan. Menurutnya, orang-orang dapat melampaui determinisme
yang ditentukan oleh Marx dan Freud. Fromm menjadikan ide kebebasan ini sebagai
karakter utama dari manusia.
6.
Teori Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung
merupakan salah satu dari ahli psikologi yang cukup terkemuka pada abad XX.
Bahkan, beliau merupakan ahli psikologi pertama yang merumuskan tentang tipe
kepribadian manusia dengan menggunakan
istilah introvert dan ekstrovert. Di dalam teori kepribadian yang
diungkapkannya, beliau membahas hal-hal penting termasuk tentang ego,
ketidaksadaran kolektif, serta ketidaksadaran personal. Menurut Jung, manusia
penuh pengaruh dari warisan generasi terdahulu, kemudian kepribadian dibentuk
secara tak sadar. Kepribadian seseorang akan terbentuk melalui perjalanan
proses yang panjang turun temurun dari generasi ke generasi yang ada.
Menurut Jung struktur jiwa terdiri dari
beberapa bagian, yaitu:
·
Ego
Merupakan bagian dari
jiwa dasar yang terdiri dari ingatan, pikiran, persepsi, serta perasaan yang
sadar. Dari ego inilah muncul identitas dan kontinyuitas dalam diri seseorang.
·
Collective Unconscious
ang yang berisikan
bekas-bekas ingatan yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Tidak hanya
meliputi sejarah manusia saja namun juga leluhur nenek moyangnya. Collective
unconscious terdiri dari beberapa archetype, antara lain adalah:
ü Persona.
ü Anima
dan Animus.
ü Shadow.
ü Self.
ü Personal
Unconscious
Pada bagian ini terdiri dari
pengalaman-pengalaman yang dialami secara sadar namun dilupkan dengan cara
suppression dan repression. Pengalaman-pengalaman yang bersifat lemah juga akan
masuk ke dalam bagian ini.
7.
Teori Kepribadian Gordon W Allport
Ciri khas yang paling terlihat dari
Teori Gordon W Allport adalah:
·
Penggunaan model hewan, anak-anak, mesin
tidak dapat digunakan untuk merumuskan pada teori yang bermanfaat mengenai
manusia. (Baca Juga : Kode Etik Psikologi)
·
Tulisan-tulisan yang dibuatnya menjelaskan
mengenai keunikan dari perilaku manusia
·
Karya-karyanya mengutamakan untuk
masalah-masalah empiris, bukan ditujukan untuk kesatuan teori dan metodologi.
·
Penggunaan teorinya tidak terbatas.
(Baca : Teori Belajar dalam Psikologi)
·
Sangat mengutamakan Trait, sehingga
banyak menyebutnya teorinya sebagai Trait Psychology.
Menurut Gordon,
kerpibadian merupakan sesuatu hal yang unik dan dimiliki oleh manusia pribadi
masing-masing. Gordon juga menyatakan bahwa kesadaran manusia dipengaruhi oleh
3 komponen dibawah ini.
·
Dynamic Organization.
·
Psychophysical System.
·
Determine.
8.
Teori Psikologi Individual
Teori Psikologi
Kepribadian selanjutnya adalah teori psikologi individual. Alfred Adler
merupakan pengembang dari psikologis individual, yang merupakan sistem
komparatif untuk memahami seseorang serta berkaitan dengan lingkungan
sosialnya. Psikologi individual sendiri dikembangkan langsung oleh Alfred Adler
serta beberapa pengikutnya antara lain adalah Martin Son Tesgard, Donal
Dinkmeyer, dan Rudolph Drekurs. Ada 7 prinsip dasar dari psikologi individual,
antara lain adalah:
·
Perasaan rendah diri dan kompensasi.
·
Tujuan yang sifatnya semu.
·
Berjuang menjadi superior.
·
Gaya Hidup.
·
Minat Sosial.
·
Kreatif.
9.
Teori Psikologi Behaviorisme
Psikologi Behaviorisme
merupakan bidang ilmu di dalam psikologi yang di dalamnya mempelajari tentang
perilaku seseorang. Sistem psikologi Behavorisme merupakan transisi dari sistem
yang ada sebelumnya. Sistem psikologi ini sangat mendapat dukungan yang kuat
dan berkembang pesat di Amerika Serikat pada abad 20.
Ada beberapa tokoh-tokoh yang memiliki
pandangan terhadap psikologi Behaviorisme:
·
John Watson.
·
Burhuss Frederick Skinner.
·
Erward Lee Thomdike.
·
Ivan Petrovich Pavlov.
·
Robert Gagne.
·
Albert Bandura.
10.
Teori Trait
Teori trait sendiri
dicetuskan oleh Gordon Allport yang merupakan ahli psikologi yang meneliti
mengenai kepribadian trait dalam diri manusia. Menurut Allport, teori trait
merupakan sistem neuropsikis yang dalam perkembangannya digeneralisasikan
kemudian diarahkan agar mendapatkan kemampuan untuk menghadapi berbagai
perangsang secara bersamaan, danjuga membimbing perilaku ekspresi dan adaptasi
secara bersamaan. Terdapat lima faktor yang dalam teori trait, antara lain
adalah:
·
Neurotikisme.
·
Ekstraversi.
·
Keterbukaan.
·
Keramahtamahan.
·
Kehati-hatian.
11. Teori Humanistik
Teori Humanistik
dicetuskan pertama kali oleh Arthur Combs, Carl Rogers, Erich Fromm, Viktor
Franki, serta Abraham Maslow. Pada teori humanistik, lebih melihat pada
perkembangan kepribadian seseorang. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan adalah
untuk melihat kejadian yang mana manusia dapat membangun dirinya sendiri untuk
melakukan hal yang positif.
Kemampuan untuk
melakukan hal-hal positif inilah yang disebut potensi manusia. Para ahli yang
memiliki aliran humanism biasanya akan lebih fokus pada pengajaran kemampuan
hal-hal positif ini. Kemampuan positif sangat berkaitan dengan pengembangan
emosi positif yang berada dalam domain afektif. Emosi menjadi karakteristik
yang kuat dan terlihat dari orang-orang yang beraliran humanisme.
Teori humanisme sangat cocok jika
diterapkan dalam pembelajaran yang sifatnya untuk membentuk kepribadian,
perubahan sikap, kesadaran hati nurani dan juga analisis pada fenomena sosial.
12. Teori Kepribadian Henry Murray
Henry Alexander Murray
adalah salah satu tokoh yang mengembangkan ilmu psikologi kepribadian. Beliau
lahir dan besar di New York pada tanggal
13 Mei 1893 dan meninggal pada tahun 1988. Henry Murray berpendapat bahwa
kepribadian lebih mudah dipahami dengan menyelidiki alam ketidaksadaran
seseorang (unconscious mind).
Komponen definisi kepribadian murray,
sebagai berikut :
·
Kepribadian adalah abstraksi yang
dirumuskan teoritikus ( ahli teori ), bukan gambaran tingkah laku individu.
·
individu adalah gabungan beberapa
peristiwa yang secara ideal meliputi rentang hidup sang individu. Sejarah
kepribadian yaitu : kepribadian itu sendiri.
·
Definisi kepribadian mencakup semua
unsur tingkah laku yang tepat dan berulang, juga meliputi unsur unsur yang baru
dan unik.
·
Kepribadian merupakan fungsi yang
mengatur dan menjadi penunjuk arah dalam diri individu yang memiliki tujuan
mengintegrasikan beberapa konflik yang terjadi serta rintangan rintangan yang
harus dilalui, memuaskan kebutuhan kebutuhan individu dan menyusun rencana
rencana untuk mencapai tujuan dimasa datang.
·
Kepribadian terletak di otak, tanpa otak
tidak ada kepribadian (no brain, no personality).
13. Teori Kepribadian Gestalt
Psikologi Gestalt
merupakan suatu aliran psikologi yang berkembang di Jerman pada tahun 1912.
Psikologi ini muncul bersamaan dengan sebuah artikel yang terbit berjudul
“Experimental Studies of the Perception of Movement” oleh Max Wertheimer. Max Wertheimer (1880-1943), pada zamannya
dikenal sebagai penemu Psikologi Gestalt, ia juga bekerja sama dengan kedua
temannya yaitu Kurt Lewin Koffka (1886-1941) dan Wolfag Kohler (1887-1967),
dimana keduanya juga memiliki pandangan yang sama dengan Wertheimer.
Aliran Gestalt
menentang aliran behavioristik yang memiliki pandangan elementaristik. Menurut
Gestalt, baik strukturalisme maupun behaviorisme sama-sama memiliki kesalahan
karena telah membagi pokok bahasan menjadi beberapa bagian terkait yaitu
perilaku menjadi sebuah elemen-elemen. Pandangan psikologi Gestalt berpusat
pada apa yang dipersepsi itu merupakan sebuah kebulatan. Teori ini juga dikenal
dengan teori pembelajaran yang mendalam.
B.
BK PRIBADI SOSIAL
1. Pengertian
Bimbingan Pribadi Sosial
Bimbingan
pribadi-sosial merupakan salah satu bidang bimbingan yang ada di sekolah.
Menurut Dewa Ketut Sukardi (1993: 11) mengungkapkan bahwa bimbingan
pribadi-sosial merupakan usaha bimbingan, dalam menghadapi dan memecahkan
masalah pribadi-sosial, seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan
pergaulan.
Sedangkan menurut
pendapat Abu Ahmadi (1991: 109) Bimbingan pribadi-sosialadalah, seperangkat
usaha bantuan kepada peserta didik agar dapat mengahadapi sendiri
masalah-masalah pribadi dan sosial yang dialaminya, mengadakan penyesuaian
pribadi dan sosial, memilih kelompok sosial, memilih jenis-jenis kegiatan
sosial dan kegiatan rekreatif yang bernilai guna, serta berdaya upaya sendiri
dalam memecahkan masalah-masalah pribadi, rekreasi dan sosial yang dialaminya.
Inti dari pengertian
bimbingan pribadi-sosial yang dikemukakan oleh Abu Ahmadi adalah, bahwa
bimbingan pribadi-sosial diberikan kepada individu, agar mampu menghadapi dan
memecahkan permasalahan pribadi-sosialnya secara mandiri. Hal senada juga
diungkapkan oleh Syamsu Yusuf (2005: 11) yang mengungkapkan bahwa bimbingan
pribadi-sosial adalah bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan
masalah-masalah sosial-pribadi.
Yang tergolong dalam
masalah-masalah sosial-pribadi adalah masalah hubungan dengan sesama teman,
dengan dosen, serta staf, permasalahan sifat dan kemampuan diri, penyesuaian
diri dengan lingkungan pendidikan dan masyarakat tempat mereka tinggal dan
penyelesaian konflik.
Dari beberapa
pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan pribadi-sosial merupakan
suatu bimbingan yang diberikan oleh seorang ahli kepada individu atau kelompok,
dalam membantu individu menghadapi dan memecahkan masalah-masalah
pribadi-sosial, seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik dan pergaulan
2. Landasan
Bimbingan dan Konseling Pribadi Sosial
Membicarakan tentang
landasan dalam bimbingan dan konseling pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan
landasan-landasan yang biasa diterapkan dalam pendidikan, seperti landasan
dalam pengembangan kurikulum, landasan pendidikan non formal atau pun landasan
pendidikan secara umum.
Landasan dalam
bimbingan dan konseling pada hakekatnya merupakan faktor-faktor yang harus
diperhatikan dan dipertimbangkan khususnya oleh konselor selaku pelaksana utama
dalam mengembangkan layanan bimbingan dan konseling. Ibarat sebuah bangunan,
untuk dapat berdiri tegak dan kokoh tentu membutuhkan fundasi yang kuat dan
tahan lama. Apabila bangunan tersebut tidak memiliki fundasi yang kokoh, maka
bangunan itu akan mudah goyah atau bahkan ambruk. Demikian pula, dengan layanan
bimbingan dan konseling, apabila tidak didasari oleh fundasi atau landasan yang
kokoh akan mengakibatkan kehancuran terhadap layanan bimbingan dan konseling
itu sendiri dan yang menjadi taruhannya adalah individu yang dilayaninya
(klien). Secara teoritik, berdasarkan hasil studi dari beberapa sumber, secara
umum terdapat empat aspek pokok yang mendasari pengembangan layanan bimbingan
dan konseling, yaitu landasan filosofis, landasan religious, landasan
psikologis, landasan sosial-budaya, landasan ilmu pengetahuan (ilmiah) dan
teknologi, dan laandasan pedagogis. Selanjutnya, di bawah ini akan
dideskripsikan dari masing-masing landasan bimbingan dan konseling tersebut :
1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis
merupakan landasan yang dapat memberikan arahan dan pemahaman khususnya bagi
konselor dalam melaksanakan setiap kegiatan bimbingan dan konseling yang lebih
bisa dipertanggungjawabkan secara logis, etis maupun estetis.Landasan filosofis
dalam bimbingan dan konseling terutama berkenaan dengan usaha mencari jawaban
yang hakiki atas pertanyaan filosofis tentang : apakah manusia itu ? Untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan filosofis tersebut, tentunya tidak dapat
dilepaskan dari berbagai aliran filsafat yang ada, mulai dari filsafat klasik
sampai dengan filsafat modern dan bahkan filsafat post-modern. Dari berbagai
aliran filsafat yang ada, para penulis Barat .(Victor Frankl, Patterson,
Alblaster & Lukes, Thompson & Rudolph, dalam Prayitno, 2003) telah
mendeskripsikan tentang hakikat manusia sebagai berikut :
ü Manusia
adalah makhluk rasional yang mampu berfikir dan mempergunakan ilmu untuk
meningkatkan perkembangan dirinya.
ü Manusia
dapat belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya apabila dia berusaha
memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya.
ü Manusia
berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri
khususnya melalui pendidikan.
ü Manusia
dilahirkan dengan potensi untuk menjadi baik dan buruk dan hidup berarti upaya
untuk mewujudkan kebaikan dan menghindarkan atau setidak-tidaknya mengontrol
keburukan.
ü Manusia
memiliki dimensi fisik, psikologis dan spiritual yang harus dikaji secara
mendalam.
ü Manusia
akan menjalani tugas-tugas kehidupannya dan kebahagiaan manusia terwujud
melalui pemenuhan tugas-tugas kehidupannya sendiri.
ü Manusia
adalah unik dalam arti manusia itu mengarahkan kehidupannya sendiri.
ü Manusia
adalah bebas merdeka dalam berbagai keterbatasannya untuk membuat
pilihan-pilihan yang menyangkut perikehidupannya sendiri. Kebebasan ini
memungkinkan manusia berubah dan menentukan siapa sebenarnya diri manusia itu
adan akan menjadi apa manusia itu.
ü Manusia
pada hakikatnya positif, yang pada setiap saat dan dalam suasana apapun,
manusia berada dalam keadaan terbaik untuk menjadi sadar dan berkemampuan untuk
melakukan sesuatu.
Dengan memahami hakikat
manusia tersebut maka setiap upaya bimbingan dan konseling diharapkan tidak
menyimpang dari hakikat tentang manusia itu sendiri. Seorang konselor dalam
berinteraksi dengan kliennya harus mampu melihat dan memperlakukan kliennya
sebagai sosok utuh manusia dengan berbagai dimensinya.
2. Landasan Religius
Dimensi spiritual pada
manusia menunjukkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk religious. Hal
ini menimbulkan keyakinan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan. Keyakinan bahwa
manusia adalah makhluk Tuhan, mengisyaratkan pada ketinggian derajat dan
keindahan manusia serta peranannya sebagai khalifah di bumi. Derajat dan
keberadaan yang paling mulia diantara makhluk- makhluk Allah Swt. Lainnya perlu
dimuliakan oleh manusia itu sendiri.Allah Swt. Mengamanatkan kepada manusia
untuk menjadi pemimpin , terutama pemimpin bagi dirinya sendiri. Untuk dapat
memikul amanat itu, Allah Swt telah menciptakan manusia dengan segala fasilitas
keinsanan dan keutuhan yang sempurna dan lengkap. Sehingga dengan itu, manusia
merupakan makhluk yang terbaik, indah dan sempurna. Kemanusiaan manusia perlu
dikembangkan dan dan dimuliakan secara sengaja melalui berbagai upayaantara
lain melalui pendidikan dan bimbingan serta pengembangan kebudayaan dalam arti
yang seluas- luasnya.
Landasan religious bagi layanan
bimbingan dan konseling setidaknya ditekankan pada tiga hal pokok, yaitu :
·
Keyakinan bahwa manusia dan seluruh alam
semesta adalah makhluk Allah Swt,
·
Sikap yang mendorong perkembangan dan
perikehidupan manusia berjalan kearah dan sesuai dengan kaidah- kaidah agama,
·
Upaya yang memungkinkan berkembang dan
dimanfaatkannya secara optimal suasana dan perangkat budaya ( termasuk ilmu
pengetahuan dan teknologi ) serta kemasyarakatan yang sesuai dan meneguhkan
kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan pemecahan masalah individu.
Landasan religious
dalam bimbingan dan konseling pada umumnya ingin menetapkan klien sebagai
makhluk Allah Swt. Dengan segenap kemuliaan kemanusiaan dan menjadi focus
netral upaya bimbingan dan konseling. Klien dengan segenap kemuliaan
kemanusiaannya hendaknya diperlakukan dalam suasana dan dalam cara yang penuh
kemuliaan kemanusiaan pula. Kemulian manusia banyak diungkapkan melalui ajaran
agama. Oleh karena itu, dalam masyarakat agama itu banyak macamnya, maka
konselor harus hati- hati dan bijaksana menerapkan landasan religious terhadap
klien ( siswa) yang berbeda latar belakang agamanya.
Dalam konteks islam,
implementasi layanan bimbingan dan konseling yang berlandaskan religious, harus
merujuk kepada ajaran islam yang terangkum dalam Alquran dan Al Hadis. Ini
bermakna bahwa praktik pemberian bantuan ( layanan bimbingan dan konseling) disekolah
atau madrasah terlebih lagi untuk klien yang beragama islm, tidak boleh
bertentangan dengan ajaran islam.
3. Landasan Psikologis
Landasan psikologis
merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman bagi konselor tentang
perilaku individu yang menjadi sasaran layanan (klien). Untuk kepentingan
bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh
konselor adalah tentang : (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkungan,
(c) perkembangan individu; (d) belajar; dan (e) kepribadian.
a)
Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi
berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku baik motif
primer yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh
individu semenjak dia lahir, seperti : rasa lapar, bernafas dan sejenisnya
maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi,
memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu dan sejenisnya. Selanjutnya
motif-motif tersebut tersebut diaktifkan dan digerakkan,– baik dari dalam diri
individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik)–,
menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada
suatu tujuan.
b)
Pmbawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan
lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk daN mempengaruhi
perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan
merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti
struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau
ciri-ciri-kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang
perlu dikembangkan dan untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada
lingkungan dimana individu itu berada. Pembawaan dan lingkungan setiap individu
akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada
pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya dalam kecerdasan, ada yang sangat
tinggi (jenius), normal atau bahkan sangat kurang (debil, embisil atau ideot).
Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan
yang kondusif dengan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga segenap
potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun ada pula
individu yang hidup dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan sarana
dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang
dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik.dan menjadi tersia-siakan.
c)
Perkembangan Individu
Perkembangan individu
berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang merentang sejak
masa konsepsi (pra natal) hingga akhir hayatnya, diantaranya meliputi aspek
fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial.
Beberapa teori tentang perkembangan individu yang dapat dijadikan sebagai
rujukan, diantaranya : (1) Teori dari McCandless tentang pentingnya dorongan
biologis dan kultural dalam perkembangan individu; (2) Teori dari Freud tentang
dorongan seksual; (3) Teori dari Erickson tentang perkembangan psiko-sosial;
(4) Teori dari Piaget tentang perkembangan kognitif; (5) teori dari Kohlberg
tentang perkembangan moral; (6) teori dari Zunker tentang perkembangan karier;
(7) Teori dari Buhler tentang perkembangan sosial; dan (8) Teori dari
Havighurst tentang tugas-tugas perkembangan individu semenjak masa bayi sampai
dengan masa dewasa.
d)
Belajar
Belajar merupakan salah
satu konsep yang amat mendasar dari psikologi. Manusia belajar untuk hidup.
Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan
dirinya, dan dengan belajar manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat
kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu
yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan
yang baru itulah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itulah
tanda-tanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif maupun
psikomotor/keterampilan. Untuk terjadinya proses belajar diperlukan prasyarat
belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan atau
pun hasil belajar sebelumnya.
Untuk memahami tentang
hal-hal yang berkaitan dengan belajar terdapat beberapa teori belajar yang bisa
dijadikan rujukan, diantaranya adalah : (1) Teori Belajar Behaviorisme; (2)
Teori Belajar Kognitif atau Teori Pemrosesan Informasi; dan (3) Teori Belajar
Gestalt. Dewasa ini mulai berkembang teori belajar alternatif konstruktivisme.
e)
Kepribadian
Hingga saat ini para
ahli tampaknya masih belum menemukan rumusan tentang kepribadian secara bulat
dan komprehensif.. Dalam suatu penelitian kepustakaan yang dilakukan oleh
Gordon W. Allport (Calvin S. Hall dan Gardner Lindzey, 2005) menemukan hampir
50 definisi tentang kepribadian yang berbeda-beda. Berangkat dari studi yang
dilakukannya, akhirnya dia menemukan satu rumusan tentang kepribadian yang
dianggap lebih lengkap. Menurut pendapat dia bahwa kepribadian adalah
organisasi dinamis dalam diri individu sebagai sistem psiko-fisik yang
menentukan caranya yang unik dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya.
Kata kunci dari pengertian kepribadian adalah penyesuaian diri. Scheneider
dalam Syamsu Yusuf (2003) mengartikan penyesuaian diri sebagai “suatu proses
respons individu baik yang bersifat behavioral maupun mental dalam upaya
mengatasi kebutuhan-kebutuhan dari dalam diri, ketegangan emosional, frustrasi dan
konflik, serta memelihara keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan tersebut
dengan tuntutan (norma) lingkungan.
Sedangkan yang dimaksud
dengan unik bahwa kualitas perilaku itu khas sehingga dapat dibedakan antara
individu satu dengan individu lainnya. Keunikannya itu didukung oleh keadaan
struktur psiko-fisiknya, misalnya konstitusi dan kondisi fisik, tampang,
hormon, segi kognitif dan afektifnya yang saling berhubungan dan berpengaruh,
sehingga menentukan kualitas tindakan atau perilaku individu yang bersangkutan
dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003)
mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, yang mencakup :
·
Karakter; yaitu konsekuen tidaknya dalam
mematuhi etika perilaku, konsiten tidaknya dalam memegang pendirian atau
pendapat.
·
Temperamen; yaitu disposisi reaktif
seorang, atau cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan-rangsangan yang
datang dari lingkungan.
·
Sikap; sambutan terhadap objek yang
bersifat positif, negatif atau ambivalen.
·
Stabilitas emosi; yaitu kadar kestabilan
reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan. Seperti mudah tidaknya
tersinggung, sedih, atau putus asa.
·
Responsibilitas (tanggung jawab),
kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan.
Seperti mau menerima resiko secara wajar, cuci tangan, atau melarikan diri dari
resiko yang dihadapi.
·
Sosiabilitas; yaitu disposisi pribadi
yang berkaitan dengan hubungan interpersonal. Seperti: sifat pribadi yang
terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Untuk kepentingan
layanan bimbingan dan konseling dan dalam upaya memahami dan mengembangkan
perilaku individu yang dilayani (klien) maka konselor harus dapat memahami dan
mengembangkan setiap motif dan motivasi yang melatarbelakangi perilaku individu
yang dilayaninya (klien). Selain itu, seorang konselor juga harus dapat
mengidentifikasi aspek-aspek potensi bawaan dan menjadikannya sebagai modal
untuk memperoleh kesuksesan dan kebahagian hidup kliennya. Begitu pula,
konselor sedapat mungkin mampu menyediakan lingkungan yang kondusif bagi
pengembangan segenap potensi bawaan kliennya. Terkait dengan upaya pengembangan
belajar klien, konselor dituntut untuk memahami tentang aspek-aspek dalam
belajar serta berbagai teori belajar yang mendasarinya. Berkenaan dengan upaya
pengembangan kepribadian klien, konselor kiranya perlu memahami tentang
karakteristik dan keunikan kepribadian kliennya.
C.
BK
KARIR
1.
Pengertian
Menurut Winkel (2005:114)
Bimbingan karir adalah
bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dalam memilih
lapangan kerja atau jabatan /profesi tertentu serta membekali diri supaya siap
memangku jabatan itu, dan dalam menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dari
lapanan pekerjaan yang dimasuki. Bimbingan karir juga dapat dipakai sebagai
sarana pemenuhan kebutuhan perkembangan peserta didik yang harus dilihat
sebagai bagaian integral dari program pendidikan yang diintegrasikan dalam
setiap pengalaman belajar bidang studi. Sumber: http://rasa-stroberi.blogspot.com/2012/06/pengertian-bimbingan-karier-bk-sekolah.html
2.
TUJUAN
BIMBINGAN KARIR
Secara umum tujuan
bimbingan Karir dan Konseling adalah sebagai berikut;1) Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat
dan kepribadian) yang terkait dengan pekerjaan.2) Memiliki pengetahuan mengenai
dunia kerja dan informasi karir yang menunjang kematangan kompetensi
kerja.3) Memiliki sikap positif
terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam bidang pekerjaan apapun,
tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi dirinya, dan sesuai dengan norma
agama.4) Memahami relevansi kompetensi belajar
(kemampuan menguasai pelajaran) dengan persyaratan keahlian atau keterampilan
bidang pekerjaan yang menjadi cita-cita karirnya masa depan.
3.
FUNGSI
BIMBINGAN KARIR
Bimbingan karier di
sekolah membantu siswa dalam mengenal dan mengembangkan potensi karier yang
dimilikinya. Selain itu bimbingan karier sebagai satu kesatuan proses bimbingan
memiliki manfaat yang dinikmati oleh kliennya dalam mengarahkan diri dan
menciptakan kemandirian dalam memilih karier yang sesuai dengan kemampuannya.
Fungsi bimbingan karier di sekolah
adalah sebagai berikut:
·
Memberikan kemantapan pilihan jurusan
kepada siswa, karena penjurusan akan mempersiapkan siswa dalam bidang pekerjaan
yang kelak diinginkan.
·
Memberikan bekal pada siswa yang tidak
melanjutkan sekolah untuk dapat siap kerja sesuai dengan keinginannya.
·
Membantu kemandirian bagi siswa yang
ingin ataupun harus belajar sambil bekerja.
D.
KONSELING
LINTAS BUDAYA
1. Pengertian Lintas Budaya
Triandis, Malpass, dan
Davidson (1972) : psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan
yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran
yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori
psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi
universal.
Dapat diartikan bahwa psikologi lintas budaya
ialah kajian empirik mengenai anggota di berbagai kelompok budaya yang telah
memiliki perbedaan pengalaman baik individu maupun kelompok, yang dapat membawa
ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.(Terista Mia
Armita 12141310)
2. Hubungan komunikasi lintas budaya
dan interaksi sosial antara mahasiswa yang berbeda budaya
Istilah “intercultural
communication” dalam bahasa Indonesia dipadankan komunikasi antar budaya atau
komunikasi lintas budaya. Menurut Rogers dan Steinfatt (1999), kemampuan
berkomunikasi antar budaya merupakan kemampuan seseorang untuk bertukar
informasi secara efektif dan tepat dengan orang yang berlatar belakang budaya
berbeda.
Memiliki kemampuan berkomunikasi didalam
lintas budaya sangat penting. Karena komunikasi itu dijadikan sebagai alat
untuk berinteraksi dengan beraneka ragam suku di Indonesia. Didalam
berinteraksi kita sering menjumpai perbedaan dari segi bahasa, gaya bicara, dan
penyampaian kata.sehingga jika kita memahami budaya lain kita akan lebih mudah
dalam berinteraksi dengan budaya lain.(Febriani Ika S 12141298)
Sebagai mahluk social tentu kita tidak
bisa hidup sendiri karena bagaimanapun kita akan membutuhkan bantuan orang
lain. Dalam kondisi seperti ini dimana kita akan berinteraksi dengan orang lain
bisa karena keperluan yang sama atau hanya untuk memperoleh sedikit informasi,
kita akan berinteraksi dengan cara berbicara dengan orang lain. Saat kita berinteraksi
dengan orang lain kita akan menganalisis dengan sendirinya bagaimana cara lawan
bicara kita berinteraksi dan mungkin saja cara mereka berinteraksi dan
mengeluarkan pendapat berbeda dengan yang selama ini kita ketahui karena faktor budaya yang kita anut berbeda
dengan budaya lawan bicara kita. Perbedaan ini dapat memicu terjadinya konflik
jika tidak disertai dengan interaksi dan komunikasi yang efektif dan diikuti
dengan rasa menghargai budaya orang lain.
Ketidakefektifan komunikasi seperti
kesalahan pengucapan kata saja bisa memiliki makna yang berbeda pada suatu
budaya. Bisa saja suatu kata yang biasa dipakai di suatu budaya dianggap
menjadi kata yang tabu di budaya lain.
Komunikasi merupakan hal penting
untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Banyaknya keanekaragaman dalam
berkomunikasi dapat memicu adanya kesalahfahaman. Karena di dalam suatu budaya
satu dengan yang lainya terkadang berbeda. Setiap budaya memiliki bahasa dan
makna yang berbeda beda pula. (Dessinta Arli N. J 12141303)
Contoh kasus adalah
Mahasiswi di suatu Perguruan Tinggi, dalam kasus ini banyaknya Mahasiswa IKIP
PGRI MADIUN berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang berasal
dari negeri tetangga. Seseorang yang hidup dan tinggal dalam suatu komunitas
pasti akan melakukan interaksi dengan orang lain. Ketika seorang mahasiswi yang
berasal dari Nusa Tenggara Timur dengan perawakan kerasnya bertemu dengan
mahasiswi dari Jawa yang dikenal sebagai pribadi cukup halus. Ketika terjadi
suatu masalah diantara kedua belah pihak, dengan menganut adat dan budaya
mereka yang berbeda. Maka diharapakan bagi diri kita masing-masing dapat
menciptakan rasa menerima, menghargai, serta menghormati setiap perbedaan yang
ada pada diri kita dan orang orang sekitar, khususnya perbedaan budaya agar
tercipta lingkungan yang harmonis, aman, tentram.
Komunikasi lintas budaya menjelaskan
derajat perbedaan antar individu berasal dari faktor keanggotaan kelompok
budaya, seperti kepercayaan, norma dan cara berinteraksi. Komunikasi lintas
budaya menciptakan nilai untuk menentukan mana yang tepat dan mana yang dapat
diterima oleh mahasiswa dari budaya lain. Komunikasi lintas budaya membuat
manusia dapat berkomunikasi dengan baik dan pada akhirnya, Komunikasi lintas
budaya dapat mempererat manusia dengan manusia lain dan memberikan keunikan
pada diri manusia dan masyarakat jika dilakukan dengan efektif. Dengan saling
berbagi pengalaman dan pengetahuan, saling memahami dan melengkapi sehingga
terciptakan perdamaian dan harmonisasi kehidupan melalui lintas budaya.
Lintas budaya dapat
dipelajari melalui pendidikan dalam keluarga, sosialisasi nilai-nilai dalam
masyarakat baik melalui pergaulan sosial maupun media, dan melalui pembelajaran
multikultur, yaitu pembelajaran yang dapat menfasilitasi peserta dalam memahami
materi pembelajaran tanpa adanya kendala perbedaan latar belakang cultural
(Bryant dalam Mendatu, 1996).
Lintas budaya bisa dipelajari dimanapun kita
berada. Tidak hanya didalam dunia pendidikan saja tetapi kita juga dapat
mempelajarinya saat kita bersosialisasi pada antar sesama, bukan hanya itu
saja, kita juga dapat mempelajari lintas budaya dari teknologi yang ada. Dari
internet misalnya. Ada pula yang melalui pembelajaran multikultural yaitu
proses pembelajaran yang dapat membimbing, mengarahkan dan membentuk
karakteristik siswa agar memiliki karakteristik terbiasa hidup ditengah tengah
perbedaan baik dari segi ideologis maupun perbedaan sosial. (Karunia Puspa
Septina Sari 12 141 311)
Bila setiap individu
memahami prinsip prinsip yang terdapat dalam komunikasi litas budaya, maka akan
tercipta rasa di dalam diri kita untuk menerima dan menghargai setiap perbedaan
yang ada, sehingga dapat tercipta kedamaian dalam kehidupan perbedaan. Dalam
keanekaragaman budaya terjadi perbedaan karakter, nilai hidup, dll, sehingga
mengelola perbedaan merupakan hal penting dalam berhubungan dengan orang lain.
Mengelola perbedaan berarti memungkinkan semua orang untuk benteraksi dengan
baik.
Komunikasi lintas
budaya merupakan modal untuk memahami orang lain, mampu menempatkan diri dalam
posisi budaya orang lain dengan tetap menjaga jatidiri budaya sendiri (
adaptasi, toleransi, harmoni dan sinergi budaya) .Seperti yang telah kita bahas
dalam bab sebelumnya, komunikasi lintas budaya mengambil andil yang besar dalam
penyebab terjadinya konflik di kalangan mahasiswa. Kurangnya minat individu
untuk mempelajari dan memahami komunikasi lintas budaya akan berpengaruh besar
atas munculnya sikap saling menghargai budaya orang lain sehingga tidak ada
suatu hal yang bisa menjadi penyebab konflik antar mahasiswa. Ketidakefektifan
komunikasi lintas budaya yang dilakukan juga menjadi salah satu faktor penyebab
terjadinya konflik yang terjadi dikalangan mahasiswa. Adanya perbedaan makna
kata dan juga perbedaan nilai-nilai budaya yang menganggap tabu suatu kata juga
dapat memicu terjadinya konflik yang disebabkan perbedaan budaya. Dalam
kehidupan umum di luar kehidupan mahasiswa, di beberapa daerah di Indonesia
juga terjadi konflik serupa yaitu konflik perbedaan budaya dari suku pendatang
dengan suku yang terlebih dahulu bermukim di situ. Banyak pendapat perbedaan
budaya ini menjadi tameng sekelompok tertentu sebagai faktor untuk berkonflik
demi mendapatkan sumberdaya yang ada di sekitar tempat konflik terjadi.
Perbedaan budaya juga
dapat menimbulkan persaingan dengan budaya lainnya, alasannya yaitu menunjukan
bahwa budaya daerah mereka berasal adalah yang terbaik. Tentu saja hal ini
sebenarnya baik karena mereka bangga akan budaya daerah mereka tetapi jelas hal
ini harus diluruskan mengingat Indonesia terdiri dari banyak budaya. Perbedaan
budaya juga memiliki dampak positif yaitu untuk mendorong manusia untuk
meningkatkan kemampuan individunya agar mampu bersaing dengan orang lain.
Selain itu , hal ini dapat menjadi ajang untuk saling mengenalkan setiap budaya
dan cara berinteraksi suatu budaya kepada masyarakat luas, sehingga kita semua
menjadi sadar bahwa di Indonesia kaya akan budaya yang masing-masing sangat
unik dan berbeda sehingga akan tercipta rasa bangga dalam diri kita bahwa kita
dilahirkan di Indonesia yang kaya akan segala hal.
Setiap budaya memberi identitas kepada
sekelompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami
perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam
masing-masing budaya paling tidak harus mampu mengidentifikasi identitas
dari masing-masing budaya.
Didalam suatu budaya terdapat
identitasnya masing-masing oleh karena itu apabila suatu kelompok budaya lain
ingin masuk kedalam kelompok budaya lainnya maka harus mengetahui dan memahami
lebih dahulu identitas budaya tersebut sehingga kita lebih mudah berinteraksi
dengan kelompok budaya lainnya. Contoh identitasnya antara lain: bahasa,
penampilan, kebiasaan makan, nilai/norma
dan sikap. (Novia Sundari 12141293)
3. Cara Mengatasi Konflik Karena
Adanya Perbedaan Budaya
Konflik antar mahasiswa yang disebabkan
oleh perbedaan budaya tidak boleh dibiarkan terus berlanjut karena dapat
menjadi masalah besar. Konflik ini harus segera diselesaikan dan diminimalisir
peluang dapat terjadi kembali di masa depan. Beberapa solusi agar konflik dapat
dihindari :
a.
Diadakan
kegiatan ekpo budaya daerah
Kegiatan semacam acara pergelaran seni
budaya daerah sangat perlu dilakukan karena kegiatan ini dapat mengenalkan
suatu budaya daerah pada masyarakat , dalam hal ini mahasiswa tentang budaya
lain yang diharapkan akan tercipta rasa saling menghargai dan menghormati
sesama mahasiswa yang berbeda budaya.
b.
Kegiatan keakraban yang melibatkan
sekelompok mahasiswa daerah
Diadakan kegiatan keakraban seperti
olahraga pertandingan sepak bola antar daerah di dalam kampus untuk saling
berbaur dan menjunjung rasa sportifitas dan persahabatan diantara mereka.
c.
Tidak adanya pembatasan kreativitas
Tidak kelompok atau oknum yang membatasi
kreativitas suatu komunitas budaya sehingga saling tercipta rasa menghargai dan
menghormati, asalkan kereativitas yang dilakukan tidak menganggu hak hak
kelompok budaya lain.
d.
Menciptakan rasa aman di lingkungan
Lingkungan yang aman untuk mahasiswa
yang berbeda budaya akan memacu untuk saling mengenal budaya lain sehingga akan
timbul rasa menghargai
E.
BIMBINGAN
BELAJAR
1. PENGERTIAN BIMBINGAN BELAJAR
Pengertian bimbingan
belajar adalah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk memberikan bantuan
kepada para peserta didik agar bisa mendapatkan prestasi atau hasil belajar
yang lebih optimal di lembaga tempat mereka menuntut ilmu. Bimbingan belajar
biasanya diberikan oleh pihak sekolah sebagai lembaga pendidik anak.
2. Tujuan bimbingan belajar
Lembaga bimbingan
belajar adalah salah satu cara terbaik untuk mengatasi masalah belajar anak. Di
lembaga bimbingan belajar biasanya anak akan mendapatkan beberapa cara untuk
belajar yang optimal dan efisien yang biasa diajarkan oleh para mentor.
Berikut ini adalah
tujuan dari mengikuti lembaga bimbingan belajar:
·
Agar siswa mendapatkan pelajaran
mengenai kebiasaan belajar yang baik dan efisien. Di lembaga belajar anak akan
mendapatkan kebiasaan untuk membaca buku, disiplin dalam mengerjakan
tugas-tugas dan lebih berkonestrasi pada apa yang sedang diterangkan oleh
mentor/guru.
·
Memiliki kebiasaan belajar yang tinggi.
·
Anak dituntut untuk memahami teknik
belajar yang efektif untuk dirinya sehingga proses belajar akan lebih efisien
dan tidak membosankan.
·
Membuat anak menjadi memiliki
keterampilan untuk merencanakan alur pendidikan yang akan ditempuhnya.
·
Membuat anak menjadi lebih disiplin
dalam mengikuti jadwal.
·
Mendapatkan mental yang siap untuk
melalui ujian dengan hasil yang optimal.
·
Membangun rasa tanggung jawab anak
terhadap dirinya sendiri.
·
Mengembangkan potensi anak yang selama
ini mungkin tidak terlihat oleh orang tua.
3. MAMFAAT BELAJAR
·
Bimbingan Belajar Membantu Anak dalam
Menyerap Pelajaran
Bimbingan belajar
memiliki tujuan untuk memberikan kemudahan pada anak dalam mengatasi persoalan
pelajaran yang mereka anggap sulit.
Dengan bantuan tentor, persoalan itu
akan dikupas tuntas dan sang anak pasti akan lebih mudah memahami dan menyerap
pelajaran sehingga tidak merasa kesulitan dengan soal yang tengah dihadapi.
·
Waktu Luang Anak Akan Diisi dengah Hal
Positif
Selain mendapatkan keuntungan dalam
bidang akademik, mengikut bimbingan belajar juga akan mengarahkan anak untuk
mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat.
Anak akan terhindar dari pergaulan yang
negatif karena di bimbel hampir semua waktunya akan habis untuk melakukan
kegiatan-kegiatan yang positif seperti belajar, membaca buku dan menganalisa
soal-soal yang sulit.
·
Membuat Anak Lebih Aktif dan Pandai
Bersosialisasi
Saat mengikuti bimbel,
anak akan mendapatkan banyak teman baru. Dengan begini mereka akan menjadi anak
yang lebih aktif dan pandai dalam bersosialisasi.
Saat di bimbel, anak akan lebih berani
untuk bertanya kepada tentor karena tentor memiliki sifat yang lebih terbuka
daripada guru di sekolah. Dengan begini maka akan terbentuk karakter anak yang
berani dan tidak minder.
·
Di Bimbel Anak Mendapatkan Pergaulan
Positif
Selama berada di bimbel anak akan
mendapatkan pergaulan yang positif bersama dengan teman-teman sebayanya.
Orang tua tidak perlu khawatir dengan
pergaulan anak selama di bimbel. Karena sama seperti di sekolah, bimbel pun
mengawasi anak agar tidak bertindak atau berkelakuan negatif.
TEMA
2
A. PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING
ISLAM
1. Bimbingan Konseling Islam
Secara sederhana,
gabungan dari masing-masing isitilah dari poin A dan B tersebut dapat dikaitkan
satu dengan lainnya sehingga menjadi sebutan Bimbingan Konseling Islam. Dalam
hal ini, Bimbingan Konseling Islam sebagaimana dimaksudkan di atas adalah
terpusat pada tiga dimensi dalam Islam,
yaitu ketundukan,
keselamatan dan kedamaian. Batasan lebih spesifik, Bimbingan Konseling Islam
dirumuskan oleh para ahlinya secara berbeda dalam istilah dan redaksi yang
digunakannya, namun sama dalam maksud dan tujuan, bahkan satu dengan yang lain
saling melengkapinya. Berdasarkan beberapa rumusan tersebut dapat diambil suatu
kesan bahwa yang dimaksud dengan Bimbingan Konseling Islam adalah suatu proses
pemberian bantuan secara terus menerus dan sistematis terhadap individu atau
sekelompok orang yang sedang mengalami kesulitan lahir dan batin untuk dapat
memahami dirinya dan mampu memecahkan masalah yang dihadapinya sehingga dapat
hidup secara harmonis sesuai dengan ketentuan dan petunjuk Allah dan Rasul-Nya
demi tercapainya kebahagiaan duniawiah dan ukhrawiah.[4]
Pengertian tersebut
antara lain didasarkan pada rumusan yang dikemukakan oleh H.M. Arifin, Ahmad
Mubarok dan Hamdani Bakran Adz-Dzaki. Bahkan pengertian yang dimaksudkannya
adalah mencakup beberapa unsur utama yang saling terkait antara satu dengan
lainnya, yaitu: konselor, konseli dan masalah yang dihadapi. Konselor
dimaksudkan sebagai orang yang membantu konseli dalam mengatasi masalahnya di
saat yang amat kritis sekalipun dalam upaya menyelamatkan konseli dari keadaan
yang tidak menguntungkan baik untuk jangka pendek dan utamanya jangka panjang
dalam kehidupan yang terus berubah. Konseli dalam hal ini berarti orang yang
sedang menghadapi masalah karena dia sendiri tidak mampu dalam menyelesaikan
masalahnya. Menurut Imam Sayuti Farid, konseli atau mitra bimbingan konseling
Islam adalah individu yang mempunyai masalah yang memerlukan bantuan bimbingan
dan konseling. Sedangkan yang dimaksudkan dengan masalah ialah suatu keadaan
yang mengakibatkan individu maupun kelompok menjadi rugi atau terganggu dalam
melakukan sesuatu aktivitas.
Dalam pandangan Farid
Hariyanto (Anggota IKI jogjakarta) dalam makalahnya mengatakan bahwa bimbingan
dan konseling dalam Islam adalah landasan berpijak yang benar tentang bagaimana
proses konseling itu dapat berlangsung baik dan menghasilkan
perubahan-perubahan positif pada klien mengenai cara dan paradigma berfikir,
cara menggunakan potensi nurani, cara berperasaan, cara berkeyakinan dan cara
bertingkah laku berdasarkan wahyu dan paradigma kenabian (Sumber Hukum Islam).[6]
2. Tujuan Bimbingan Konseling Islam
Menurut Para Tokoh
Thohari Musnamar
membagi tujuan bimbingan dan konseling Islami menjadi tujuan umum dan tujuan
khusus. Adapun tujuan umum dari bimbingan dan konseling Islami adalah membantu
individu mewujudkan dirinya menjadi manusia seutuhnya agar mencapai kebahagiaan
hidup di dunia dan di akhirat. Tujuan khusus bimbingan dan konseling Islami
adalah ;
a. Membantu individu agar tidak
menghadapi masalah
b. Membantu individu mengatasi masalah
yang dihadapi
c. Membantu individu memelihara dan
mengembangkan situasi dan kondisi yang baik atau yang telah baik agar tetap
baik atau menjadi lebih baik, sehingga tidak akan menjadi sumber masalah bagi
dirinya dan orang lain.
Tujuan konseling Islami
menurut Hamdani Bakran Adz-Dzuki, adalah
1. Untuk menghasilkan suatu perubahan,
perbaikan, kesehatan, dan kebersihan jiwa dan mental. Jiwa menjadi tenang,
jinak dan damai (muthmainah), bersikap lapang dada (radhiyah) dan mendapatkan
pencerahan taufik dan hidayah Tuhannya (mardhiyah)
2.
Untuk menghasilkan suatu perubahan, perbaikan dan kesopanan, tingkah
laku yang dapat memberikan manfaat baik pada diri sendiri, lingkungan keluarga,
lingkungan kerja, maupun lingkungan social dan alam sekitarnya
3. Untuk menghasilkan kecerdasan rasa (emosi)
pada individu sehingga muncul dan berkembang rasa toleransi, kesetiakawanan,
tolong-menolong dan rasa kasih saying
4. Untuk menghasilkan kecerdasan
spiritual pada diri individu sehingga muncul dan berkembang rasa keinginan
untuk berbuat taat kepada Tuhannya, ketulusan mematuhi segala perintah-Nya,
serta ketabahan untuk menerima ujian-Nya
5. Untuk menghasilkan potensi ilahiyyah,
sehingga dengan potensi itu individu dapat melakukan tugasnya sebagai khalifah
dengan baik, menanggulangi berbagai persoalan hidup dan dapat memberikan
kemanfaatan dan keselamatan bagi lingkungan pada berbagai aspek kehidupan.
TEMA
3
A.
PSIKOLOGI
PERKEMBANGAN
1. Pengertian
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
– Psikologi Perkembangan adalah salah satu disiplin ilmu dalam psikologi,
seperti ilmu psikologi klinis, ilmu psikologi sosial, ilmu psikologi industri,
psikologi eksperimental, psikologi pendidikan, psikologi faal dan ilmu-ilmu
lainnya yang lebih spesifik.Psikologi perkembangan sering juga disebut
psikologi genetika karena memang bidang cakupnya bersangkut paut dengan asal
usul dan hakekat pertumbuhan suatu tingkah laku.
2. TUJUAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
Dewasa ini psikologi
perkembangan menurut P.H. Mussen, J.J. Conger dan J. Kagan, menitik beratkan
usaha-usaha untuk mengetahui sebab-sebab atau dasar-dasar dari pertumbuhan dan
perkembangan manusia yang menyebabkan timbulnya perubahan. Karena itu, tujuan
psikologi perkembangan menurut Mussen dkk. meliputi:
·
Memerikan, mengukur, dan menerangkan
perubahan dan transformasi dalam tingkah laku dan kemampuan yang sedang
berkembang sesuai dengan tingkat umur dan yang mempunyai ciri-ciri universal,
artinya yang berlaku bagi anak-anak dimana saja dan dalam lingkungan sosial
budaya mana saja. Misalnya anak-anak di mana saja di dunia akan memperlihatkan
reaksi takut pada usia antara 8 samapai 12 bulan. Atau kemampuan anak-anak
untuk bisa berjalan di mana saja di dunia berkisar pada usia 13 tahun.
·
Mempelajari perbedaan-perbedaan yang
bersifat pribadi pada tahapan taua masa perkembangan tertentu. Misanya banyak
anak pada umur 8 bulan sangat lekat dan bergantung sekali pada ibunya sehingga
si anak akan berteriak-teriak dan amenangis bilamana ditinggal oleh ibunya,
sedangkan banyak anak lain tidak demikian. Banyak anak sudah bisa mengucapkan
10 kata pada misalnya umur 1½ tahun, sedangkan anak lain tidak.
·
Mempelajari tingkah laku anak pada
lingkungan tertentu yang menimbulkan reaksi yang berbeda. Misalnya seornag anak
yang mudah mengalami frustasi di lingkungan sosialnya, sedangkan lingkungan
rumah tidak atau sebaliknya.
·
Psikologi perkembangan seperti juga ilmu
psikologi lainnya atau disiplin-disiplin lainnya berusaha mempelajari
penyimpangan dari tingkah laku yang dialami seseorang, seperti misalnya
kenakalan-kenakalan, kelainan-kelainan dalam fungsionalitas inteleknya dan
lain-lain.
3. Kegunaan psikologi perkembangan.
Berikut
ini akan dikemukakan kegunaan psikologi perkembangan sebagai berikut:
·
Dengan mempelajari psikologi, orang akan
mengetahui fakta-fakta dan prinsip-prinsip mengenai tingkah laku manusia.
·
Untuk memahami diri kita sendiri dengan
mempelajari psikologi sedikit banyak orang akan mengetahui kehidupan jiwanya
sendiri, baik segi pengenalan, perasaan, kehendak, maupun tingkah laku lainnya.
·
Dengan mengetahui jiwanya dan memahami
dirinya itu maka orang dapat menilai dirinya sendiri.
·
Pengenalan dan pemahaman terhadap
kehidupan jiwa sendiri merupakan bahan yang sangat penting untuk dapat memahami
kehidupan jiwa orang lain.
·
Dengan bekal pengetahuan psikologi juga
dapat dipakai sebagai bahan untuk menilai tingkah laku normal, sehingga kita
dapat mengetahui apakah tingkah laku seseorang itu sesuai tidak dengan tingkat
kewajarannya, termasuk tingkat kenormalan tingkah laku kita sendiri.
B.
PSIKOLOGI
KEPRIBADIAN
1. PENGERTIAN
Psikologi Kepribadian
adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang kepribadian manusia melalui
tingkah laku atau sikap sehari-hari yang menjadi ciri khas seseorang tersebut.
Kepribadian merupakan salah satu bagian atau ciri khas yang istimewa dan sangat
penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu Psikologi Kepribadian adalah
hal yang sangat penting untuk dipelajari.
Pengertian kepribadian
adalah ciri – ciri watak seseorang individu yang konsisten, yang memberikan
kepadanya suatu identitas sebagai individu yang khusus, yang dimaksudkan adalah
bahwa orang tersebut mempunyai beberapa ciri watak yang diperlihatkan secara
lahir, konsisten dan konskuen dalam tingkah lakunya sehingga tampak bahwa
individu tersebut memiliki identitas khusus yang berada dari individu –
individu. ( Koetjaraningrat, 1985:102).
Menurut Yinger
kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan system
kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.
2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Kepribadian
Faktor-faktor yang
mempengaruhi kepribadian antara lain:
1. Faktor Biologis
Faktor biologis
merupakan faktor yang berhubungan dengan keadaan jasmani, atau seringkali pula
disebut faktor fisiologis seperti keadaan genetik, pencernaan, pernafasaan,
peredaran darah, kelenjar-kelenjar, saraf, tinggi badan, berat badan, dan
sebagainya. Kita mengetahui bahwa keadaan jasmani setiap orang sejak dilahirkan
telah menunjukkan adanya
perbedaan-perbedaan. Hal ini dapat kita lihat pada setiap bayi yang baru lahir.
Ini menunjukkan bahwa sifat-sifat jasmani yang ada pada setiap orang ada yang
diperoleh dari keturunan, dan ada pula yang merupakan pembawaan anak/orang itu
masing-masing. Keadaan fisik tersebut memainkan peranan yang penting pada
kepribadian seseorang.
2. Faktor Sosial
Faktor sosial yang
dimaksud di sini adalah masyarakat ; yakni manusia-manusia lain disekitar
individu yang bersangkutan. Termasuk juga kedalam faktor sosial adalah
tradisi-tradisi, adat istiadat, peraturan-peraturan, bahasa, dan sebagainya
yang berlaku dimasyarakat itu.
Sejak dilahirkan, anak
telah mulai bergaul dengan orang-orang disekitarnya. Dengan lingkungan yang
pertama adalah keluarga. Dalam perkembangan anak, peranan keluarga sangat
penting dan menentukan bagi pembentukan kepribadian selanjutnya. Keadaan dan
suasana keluarga yang berlainan memberikan pengaruh yang bermacam-macam pula
terhadap perkembangan kepribadian anak.
Pengaruh lingkungan
keluarga terhadap perkembangan anak sejak kecil adalah sangat mendalam dan
menentukan perkembangan pribadi anak selanjutnya. Hal ini disebabkan karena
pengaruh itu merupakan pengalaman yang pertama, pengaruh yang diterima anak
masih terbatas jumlah dan luasnya, intensitas pengaruh itu sangat tinggi karena
berlangsung terus menerus, serta umumnya pengaruh itu diterima dalam suasana
bernada emosional. Kemudian semakin besar seorang anak maka pengaruh yang
diterima dari lingkungan sosial makin besar dan meluas. Ini dapat diartikan
bahwa faktor sosial mempunyai pengaruh terhadap perkembangan dan pembentukan
kepribadian.
3. Faktor Kebudayaan
Perkembangan dan pembentukan kepribadian pada
diri masing-masing orang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan masyarakat di
mana seseorang itu dibesarkan. Beberapa aspek kebudayaan yang sangat mempengaruhi
perkembangan dan pembentukan kepribadian antara lain:
a. Nilai-nilai (Values)
Di dalam setiap
kebudayaan terdapat nilai-nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh
manusia-manusia yang hidup dalam kebudayaan itu. Untuk dapat diterima sebagai
anggota suatu masyarakat, kita harus memiliki kepribadian yang selaras dengan
kebudayaan yang berlaku di masyarakat itu.
b. Adat dan Tradisi.
Adat dan tradisi yang
berlaku disuatu daerah, di samping menentukan nilai-nilai yang harus ditaati
oleh anggota-anggotanya, juga menentukan pula cara-cara bertindak dan
bertingkah laku yang akan berdampak pada kepribadian seseorang.
c. Pengetahuan dan Keterampilan.
Tinggi rendahnya
pengetahuan dan keterampilan seseorang atau suatu masyarakat mencerminkan pula
tinggi rendahnya kebudayaan masyarakat itu. Makin tinggi kebudayaan suatu
masyarakat makin berkembang pula sikap hidup dan cara-cara kehidupannya.
d. Bahasa
Di samping
faktor-faktor kebudayaan yang telah diuraikan di atas, bahasa merupakan salah
satu faktor yang turut menentukan cirri-ciri khas dari suatu kebudayaan. Betapa
erat hubungan bahasa dengan kepribadian manusia yang memiliki bahasa itu.
Karena bahasa merupakan alat komunikasi dan alat berpikir yang dapat menunukkan
bagaimana seseorang itu bersikap, bertindak dan bereaksi serta bergaul dengan
orang lain.
e. Milik Kebendaan (material possessions)
Semakin maju kebudayaan
suatu masyarakat/bangsa, makin maju dan modern pula alat-alat yang dipergunakan
bagi keperluan hidupnya. Hal itu semua sangat mempengaruhi kepribadian manusia
yang memiliki kebudayaan itu.
3. Tahap-Tahap Perkembangan
Kepribadian
Perkembangan
kepribadian menurut Jean Jacques Rousseau berlangsung dalam beberapa tahap
yaitu:
1. Tahap perkembangan masa bayi (sejak
lahir- 2 tahun)
Tahap ini didominasi
oleh perasaan.Perasaan ini tidak tumbuh dengan sendiri melainkan berkembang
sebagai akibat dari adanya reaksi-reaksi bayi terhadap stimulus lingkungan.
2. Tahap perkembangan masa kanak-kanak (umur
2-12 tahun)
Pada tahap ini perkembangan
kepribadian dimulai dengan makin berkembangnya fungsi indra anak dalam
mengadakan pengamatan.
3. Tahap perkembangan pada masa preadolesen
(umur 12- 15 tahun)
Pada tahap ini
perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Anak mulai
kritis dalam menanggapi ide orang lain. anak juga mulai belajar menentukan
tujuan serta keinginan yang dapat membahagiakannya.
4. Tahap perkembangan masa adolesen (umur
15- 20 tahun)
Pada masa ini kualitas
hidup manusia diwarnai oleh dorongan seksualitas yang kuat, di samping itu
mulai mengembangkan pengertian tentang kenyataan hidup serta mulai memikirkan
tingkah laku yang bernilai moral.
5. Tahap pematangan diri (setelah umur 20
tahun)
Pada tahap ini
perkembangan fungsi kehendak mulai dominan.Mulai dapat membedakan tujuan hidup
pribadi, yakni pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, serta
pemuasan keinginan masyarakat.Pada masa ini terjadi pula transisi peran social,
seperti dalam menindaklanjuti hubungan lawan jenis, pekerjaan, dan peranan
dalam keluarga, masyarakat maupun Negara. Realisasi setiap keinginan
C.
PENGERTIAN PSIKOLOGI KELUARGA
1.
Pengertian Keluarga
Keluarga adalah dua
atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan
darah, perkawinan, atau adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang
lain, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu
budaya
Menurut Salvicion dan
Celis (1998) di dalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang
tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di hidupnya
dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di dalam perannya
masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan
Terdapat beberapa
definisi keluarga dari beberapa sumber, yaitu:
1. Keluarga adalah
sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi yang bertujuan
untuk menciptakan, mempertahankan budaya, dan meningkatkan perkembangan fisik,
mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga (Duvall dan Logan,
1986).
2. Keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang
yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan
saling ketergantungan.
3. Keluarga merupakan unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul
dan tinggal di suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Departemen Kesehatan RI, 1988)
2.
FUNGSI
PSIKOLOGI KELUARGA
Keluarga memiliki fungsi yang sangat vital untuk anggota keluarga. Paling
tidak terdapat 8 fungsi keluarga yaitu fungsi pendidikan, sosial, agama,
ekonomi, perlindungan, kasih sayang, rekreasi dan fungsi biologis.
1. Fungsi Pendidikan
Keluarga menjadi tempat pertama dan utama dalam memperoleh pendidikan.
Melalui keluarga diperkenalkan cara berbicara, cara mengenal lingkungan, dan
pengetahuan dasar lainnya. Keluarga juga menjadi pendorong anggota keluarga
untuk mendapatkan pendidikan formal, non formal dan informal.
2. Fungsi Sosial
Sebagai unit terkecil dari masyarakat keluarga berperan untuk menjadi
tempat interakasi sosial pertama. Mengajarkan tentang cara berinteraksi yang
seharusnya, bagaimana bersikap dan saling menghargai. Pola interaksi sosial
dalam lingkungan keluarga akan sangat berpengaruh dalam melakukan interkasi
sosial pada lingkungan yang lebih luas.
3. Fungsi Agama
Keluarga merupakan tempat pertama kali memperkenalkan tentang agama. Cara
melaksanakan ibadah sesuai perintah agama. Tentang perintah dan larangan dalam
agama, dan segala aspek yang berhubungan dengan agama. Paling penting adalah
keluarga menjadi contoh dalam praktek pelaksanaan ritual keagamaan.
4. Fungsi Ekonomi
Keluarga memiliki fungsi ekonomi dalam hal pemenuhan kebutuhan dan
pengaturan keuangan. Dalam keluarga harus ada sistem keuangan yang mengatur
keseimbangan antara jumlah pemasukan dan pengeluaran agar pemenuhan kebutuhan
primer dapat terpenuhi.
5. Fungsi Perlindungan
Keluarga memiliki fungsi perlindungan untuk memberikan perlindungan kepada
anggota keluarga terhadap kemungkinan ancaman dari luar. Ancaman dari
lingkungan sosial sangat beragam seperti penyimpanan dari norma, pergaulan
tidak sehat dan ancaman terhadap tindakan kekerasan fisik.
6. Fungsi Kasih Sayang
Keluarga menjadi tempat pertama mendapatkan kasih sayang. Keluarga menjadi
tempat pertama dan utama dalam mengenal cinta, menyalurkan emosi dan berbagi
kebahagiaan. Rasa kasih sayang didapatkan dari perhatian, tindakan, dan bahkan
berupa larangan-larangan sebagai bagian dari fungsi perlindungan.
7. Fungsi Rekreasi
Lingkungan keluarga merupakan tempatyang paling tepat untuk memperoleh
keceriaan. Tempat menyandarkan penat ketika lelah bekerja. Tempat untuk
mendapatkan ketenangan ketika mendapatkan masalah diluar, seperti sekolah,
tempat kerja, dan lingkungan sosial lainnya.
8. Fungsi Biologis
Keluarga merupakan tempat untuk mendapatkan pemenuhan kebutuhan biologis
dan fisiologis. Kebutuhan seperti makan, minum, istirahat dan lainnya. Tempat
terbaik untuk terus tumbuh dan berkembang.
3. Ruang lingkup
psikologi keluarga adalah sebagai berikut:
·
Manajemen
Psikologi keluarga
mengkaji manajemen dalam keluarga untuk memudahkan dalam membuat aturan yang
berhubungan dengan kesejahteraan keluarga. Manajemen keluarga meliputi
manajemen keuangan, manajemen tugas, manajemen pemenuhan kebutuhan dan lainnya.
·
Komunikasi
Komunikasi menjadi
bagian penting dari objek kajian psikologi. Dalam keluarga komunikasi menjadi
sangat penting agar sesama anggota keluarga mampu membangun interaksi dengan
dasar saling memahami karakteristik masing-masing.
·
Pengembangan potensi
Pengembangan potensi
anggota keluarga merupakan menjadi bagian dari kajian psikologi. Bagaimana
keluarga memberikan dukungan secara mental dan finansial agar anggota keluarga
mampu mengembangkan potensi dengan maksimal.
·
Strategi mengatasi permasalahan
Masalah adalah sesuatu
yang pasti terjadi, baik itu dilingkungan sosial maupun dilingkungan
masyarakat. Peran psikologi membantu mengatasi masalah yang terjadi dalam
keluarga dengan pendekatan yang sangat humanis.
·
Tanggung Jawab
Sebagai tempat pertama
kali belajar tentang tanggung jawab. Kajian psikologi tentang tanggung jawab
sangat penting dilakukan dalam keluarga. Seseorang yang terbiasa memegang
tanggung jawab biasanya akan melakukan hal yang sama dilingkungan sosial yang
lebih luas.
4. MAMFAAT PSIKOLOGI KELUARGA
Manfaat psikologi
keluarga baik sebagai pelajaran teoritis maupun praktek dalam kehidupan
sehari-hari adalah sebagai berikut:
·
Memudahkan dalam interaksi sesama
anggota keluarga.
·
Memudahkan untuk saling memahami
karakter dan kepribadian masinG
·
masing anggota keluarga.
·
Memudahkan untuk memahami perbedaan,
baik dari segi cara berpikir, kebutuhan, dan tanggung jawab.
TEMA
4
AYAT
AL QUR’AN DAN HADIS
Beberapa ayat al-Quran
yang berhubungan dengan bimbingan konseling diantaranya adalah:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى
الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ
هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan
hendaklah ada diantara kamu segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh
kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar[[7]], merekalah orang-orang yang
beruntung”. (Ali Imran:104)
Serulah (manusia)
kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalann-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl:125)
Kata konseling dalam
bahasa arab adalah al-Irsyad yang secara etimologi berarti al-Huda, ad-Dalalah,
dalam bahasa indonesia berarti : petunjuk. Kata al-Irsyad menjadi satu dengan
al-Huda dapat dilihat dalam surah al-Kahfi (18) ayat 17, dan kata al-Irsyad
secara sendiri dapat dilihat dalam surah al-Jin (72) ayat 2. Inti makna surah
al-Kahfi (18) ayat 17 adalah : Allah-lah yang memberi petunjuk kepada manusia
akan jalan kebenaran. Sedangkan inti makna Surah al-Jin (72) ayat 2 adalah:
Alah menjelaskan bahwa al-Qur’an sebagai pedoman yang memberi petunjuk kepada
jalan kebenaran, yakni sebagai berikut:
غَرَبَت وَإِذَا الْيَمِينِ
ذَاتَ كَهْفِهِمْ عَن تَّزَاوَرُ طَلَعَت إِذَا الشَّمْسَ وَتَرَى
فَهُوَ اللَّهُ يَهْدِ مَن اللَّهِ آيَاتِ مِنْ ذَلِكَ
مِّنْهُ فَجْوَةٍ فِي وَهُمْ الشِّمَالِ ذَاتَ تَّقْرِضُهُمْ
-١٧- مُّرْشِداً وَلِيّاً لَهُ تَجِدَ فَلَن يُضْلِلْ
وَمَن الْمُهْتَدِ
Artinya: “Dan engkau
akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan,
dan apabila matahari itu terbenam, menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang
mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu. Itulah sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka
dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa Disesatkan-Nya, maka engkau
tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
-٢- أَحَداً بِرَبِّنَا نُّشْرِكَ
وَلَن بِهِ فَآمَنَّا الرُّشْدِ إِلَى يَهْدِي
Artinya: “(yang)
memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami
sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami”
Berkenaan dengan
dimensi spiritual dalam konseling
Islami, Allah ditempatkan pada posisi Konselor Yang Maha Agung, satu-satunya
tempat manusia menyerahkan diri dan permasalahannya, sebagai sumber
penyelesaian masalah, sumber kekuatan dan pertolongan, sumber kesembuhan.
Pengertian ini jelas terungkap isyaratnya dalam surah al-Baqarah (2) ayat 112,
156, 255, 284, Surah ali-Imran (3) ayat 159-160, Surah at-Talaq (65) ayat 3-4,
sebagai berikut:
مَا لَّهُ نَوْمٌ وَلاَ سِنَةٌ
تَأْخُذُهُ لاَ الْقَيُّومُ الْحَيُّ هُوَ إِلاَّ إِلَـهَ لاَ اللّهُ
مَا يَعْلَمُ بِإِذْنِهِ إِلاَّ عِنْدَهُ يَشْفَعُ
الَّذِي ذَا مَن الأَرْضِ فِي وَمَا السَّمَاوَاتِ فِي
وَسِعَ شَاء بِمَا إِلاَّ عِلْمِهِ مِّنْ بِشَيْءٍ
يُحِيطُونَ وَلاَ خَلْفَهُمْ وَمَا أَيْدِيهِمْ بَيْنَ
-٢٥٥- الْعَظِيمُ الْعَلِيُّ وَهُوَ حِفْظُهُمَا
يَؤُودُهُ وَلاَ وَالأَرْضَ السَّمَاوَاتِ كُرْسِيُّهُ
Artinya: “Allah, tidak
ada tuhan selain Dia.Yang Maha Hidup, Yang terus menerus Mengurus
(makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit
dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya
tanpa izin-Nya. Dia Mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di
belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya
melainkan apa yang Dia Kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia
tidak merasa berat Memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”
Inti makna surah
al-Baqarah (2) ayat 255 adalah Allah menegaskan akan kekuasaannya terhadap
seluruh alam. Ia secara terus-menerus mengurus makhluknya. Hanya dialah
penguasa sebagai pemberi pertolongan, dan hanya dia yang berhak disembah.
مِنْ لاَنفَضُّواْ الْقَلْبِ
غَلِيظَ فَظّاً كُنتَ وَلَوْ لَهُمْ لِنتَ اللّهِ مِّنَ رَحْمَةٍ فَبِمَا
فَتَوَكَّلْ عَزَمْتَ فَإِذَا الأَمْرِ فِي وَشَاوِرْهُمْ
لَهُمْ وَاسْتَغْفِرْ عَنْهُمْ فَاعْفُ حَوْلِكَ
لَكُمْ غَالِبَ فَلاَ اللّهُ يَنصُرْكُمُ إِن -١٥٩-
الْمُتَوَكِّلِينَ يُحِبُّ اللّهَ إِنَّ اللّهِ عَلَى
فَلْيَتَوَكِّلِ اللّهِ وَعَلَى بَعْدِهِ مِّن يَنصُرُكُم
الَّذِي ذَا فَمَن يَخْذُلْكُمْ وَإِن
-١٦٠- الْمُؤْمِنُونَ
Artinya: Maka berkat
rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya
engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari
sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka,
dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau
telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah
Mencintai orang yang bertawakal. (159) Jika Allah Menolong kamu, maka tidak ada
yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah Membiarkan kamu (tidak memberi
pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu,
hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal. (160).
Contoh Perubahan Tingkah Laku Dalam Al-Qur’an
Sebagai Kunci Keberhasilan Proses Bimbingan dan Konseling
Berdasarkan telaah
heuristik terhadap 6666 ayat-ayat al-Qur’an ditemukan 290 ayat yang memiliki
kandungan nilai konseling. Semua ayat yang ditemukan secara implisit
menunjukkan adanya perubahan tingkah laku. Jumlah ayat-ayat al-Qur’an hasil
temuan dijabarkan peneliti berdasarakan model A-R sesuai jumlah perubahan
tingkah laku yang merupakan kunci keberhasilan proses bimbingan dan konseling.
Dari contoh tersebut seorang petugas bimbingan di lapangan akan dapat memilih
satu atau beberapa untuk diterapkan dalam proses bimbingan dan konseling untuk
melakukan pengubahan tingkah laku terhadap klien.
Penjabaran kedalam
model A-R bertujuan untuk memudahkan pembahasan dan pemahaman hasil temuan.
Ayat-ayat Al-qur’an yang ditemukan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 1: Jumlah Temuan
Ayat-Ayat Al-Qur’an Tentang Konseling
Perubahan
Tingkah laku
Jumlah Ayat
Model A
41 ayat (QS. Yusuf
(12): 8,11-18,59-66,70-83,87-92,97)
Model B
9 ayat (QS.Yusuf (12):
36-41)
Model C
4 ayat (QS. Al-Qashash
(28): 34-35, QS. Thaha (20): 25-32, QS. Al-a’raf (7): 142-154, QS. Thaha (20):
86-88,96-97,155)
Model D
5 ayat (QS. Al-An’am
(6): 75-78)
Model E
14 ayat (QS. Al-Qashash
(28): 15-22,33, QS.Asy-Syu’ara (26): 18-22)
Model F
9 ayat (QS. Al-Baqarah
(20): 35-38, Thaha (20): 115,120,122, QS. Al-A’raf (7): 23)
Model G
22 ayat (QS. Al-a’raf
(7): 85-93, QS. Hud (11): 84, QS. Asy-Syu’ara (26): 181-190, QS. Al-Ankabut
(29): 36-28)
Model H
30 ayat (QS. Al-Qashash
(28): 34-35, QS. Thaha (20): 25-32, QS. Al-A’raf (7): 142-154, QS. Thaha (20):
86-88,96-97,155)
Model I
4 ayat (QS. Al-Baqarah
(2): 219, QS. An-Nisa’ (4): 43, QS. Al-Ma’idah (5): 90-91)
Model J
22 ayat (QS. An-Naml
(27): 23-44)
Model K
1 ayat (QS. Al-An’am
(6): 75-78)
Model L
7 ayat (QS. Al-Anbiya’
(21): 83-84, QS. Shad (38): 41-44)
Model M
26 ayat (QS. Hud (11):
25-34,36-48, QS. Al-Ankabut (29): 14, QS. At-Tahrim (66): 10)
Model N
18 ayat (QS. Al-An’am
(6): 75-78)
Model O
20 ayat (QS. Al-Anbiya’
(21): 52-71)
Model P
25 ayat (QS. Hud (11):
50-54,58-60, Al-A’raf (7): 66-70, QS. Asy-Syu’ara’ (26): 182-135, QS. Al-Hijr
(15): 41,14-15, QS. Al-Ahqaf (46): 24-25)
Model Q
20 ayat (QS. Fushshilat
(41): 17, QS. Al-A’raf (7): 73-79, QS. Hud (11): 61-68, QS. Al-Isra’ (17):
52-53)
Model R
10 ayat( QS. An-Nur
(24): 11-20
JUMLAH
290 Ayat
Dari hasil temuan dapat
ditemui bahwa untuk membantu klien, khususnya klien yang beragama Islam teknik
efektif untuk mengubah tingkah laku klien adalah membuka kesadaran
klien.Kesadaran ini dapat diwujudkan dengan intervensi kognitif, afektif maupun
aksi.
SUMBER
HANYA INI YANG DAPAT SAYA TAMPILKAN UNTUK TUGAS FINAL ICT BK. UNTUK MATERI LAIN SILAHKAN LIHAT TULISAN SEBELUMNYA
demikian yang dapat saya presentasikan hasil ujian final lebih dan kurang saya ucapkan terima kasih
beberapa blog yang pernah saya buat diantaranya:
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/06/tekhnologi-yang-ada-dalam-bk.html
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/07/psikologi-keluarga.html
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/07/psikilogi-kepribadian.html
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/07/bimbingan-konseling-islam.html
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/07/bimbingan-konseling-lintas-budaya.html
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/07/bimbingan-belajar.html
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/07/bimbingan-karir.html
http://firdausdijahrahmat.blogspot.com/2018/07/bimbingan-konseling-pribadi-sosial.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar