Pengertian keluarga
Keluarga merupakan konsep yang bersifat multidimensi. Para ilmuwan sosial bersilang faham pendapat mengenai rumusan definisi keluarga yang bersifat universal. Salah satu ilmuwan mengkaji keluarga adalah George Murdock. Dalam bukunya social structure, Murdock meguraikan bahwa keluarga yang memiliki makhluk sosial karakteristik tinggal bersama, terdapat kerja sama ekonomi, dan terjadi proses reproduksi (Murdock, 1965). Melalui surveinya terhadap 250 perwakilan masyarakat yang dilakukan sejak tahun 1937, Murdock menemukan tipe-tipe keluarga inti (nuclear family), keluarga poligami (polygamous family), dan keluarga batih (extended family). Dari jumlah tersebut terdapat 192 sampel masyarakat yang memiliki informasi yang layak, sebanyak 47 masyarakat yang memilki tipe keluarga inti, 53 masyarakat juga memilki tipe keluarga poligami selain keluarga inti, dan 92 masyarakat juga memilki tipe keluarga batih. Berdasarkan penelitiannya tersebut Murdock menyatakan bahwa keluarga inti merupakan kelompok social yang bersifat universal. Para anggota dari keluarga inti bukan hanya membentuk kelompok sosial, melainkan juga menjalankan empat fungsi universal dari keluarga, yaitu seksual, reproduksi, pendidikan, dan ekonomi.
B. Fungsi Keluarga
Keluarga merupakan tempat yang penting bagi perkembangan anak secara fisik, emosi, spiritual, dan social. Karena keluarga sebagai sumber bagi kasih sayang perlindungan dan identitas bagi anggotanya. Keluarga menjalankan fungsi yang penting bagi keberlangsungan dari generasi kegenerasi. Dari dari kajian lintas budaya ditemukan dua funsi utama keluarga, yakni internal-memberikan perlindungan psikososial bagi para anggotanya-dan eksternal- mentranmisikan nilai-nilai budaya pada generasi selanjutnya (Minuchin, 1974).
Menurut Berns (2004), keluarga mempunyai lima fungsi dasar, yaitu ;
1. Reproduksi keluarga memiliki tugas untuk mempertahankanpopulasi yang ada di dalam masyarakat.
2. Sosoialisasi/edukasi keluarga menjadi sarana transmisinilai, keyakian, sikap, pengetahuan, keterrempilan danteknik dari generasi sebelumnya kegenersi yang lebih muda.
3. Penugasan peran social keluarga memberikan identitas para anggotanya seperti ras, etnik, religi, social, ekonomi, dan peran gender.
4. Dukungan ekonomi. Keluarga menyediakan tempatberlindung makanan dan jaminan kehidupan.
5. Dukungan emosi/pemeliharaan. Keluarga memberikan pengalaman interaksi social bagianak. Interaksi yang tejadi bersifa mendalam, mengasuuh, dan berdaya tahansehingga memberikan rasa aman pada anak.
Dalam perspektif perkembangan fungsi keluarga yang penting dari keluarga adalah; melakukan perawatan dan sosialisasi pada anak. Sosialisasi merupakan proses yang ditempuh anak untuk memperoleh keyakinan, nilai-nilai dan perilaku yang dianggap penting dan pantas oleh keluarga dewasa, terutama orang tua. Keluarga memang bukan satu-satunya lembaga yang melakuakan peran sosialisasi , melainkankeluarga merupakan tempat pertama bagi anak dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena berbagai peristiwa pada awal tahun kehidupan anak sangatberpengaru pada perkembangan sosial, emosi dan intelektual anak, maka keluarga harus dipandang sebagai instrument sosialisasi yang utama.
Kajian yang membahas keberfungsian keluarga merupakan salah satu topik yang memperoleh perhatian dari para peneliti yang terapis. Secara umum keberfungsian keluarga merujuk pada kualitas kehidupan keluarga, baik pada level system maupun subsistem, dan berkenaan dengan kjesejahteraan, kompetensi, kekutan dan dan kelemahan keluarga (shek,2002). Keberfungsian keluarga dapat dinilai dari tingkat kelentingan (resiliency) atau kekukuhan (streingth) keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan.
1. Kelentingan keluarga
Ditengah zaman yang penuh dengan pergolakan, perubahan yang pesat dan berbagai ketidakpastian, keluarga kian menghadapi tantangan yang berat. Agar keluarga tetap menjadi factor yang signifikan dan berperan positif bagi masyarakat, maka keluarga harus memiliki kelentingan dalam menghadapi tantangan zaman. Pendekatan kelentingan keluarga bertujuan untuk mengenali dan membentengi proses interaksi yang menjadi kunci bagi kemampuan keluarga untuk bertahan dan bangkit dari tantangan yang mengganggu ( walsh, 2006 ). Perspektif kelentingan memandang distre sebagai tantangan bagi keluarga, bukan hal merusak serta melihat potensi yang dimiliki keluarga untuk tumbuh dan melakukan perbaikan. Walsh mendefinisikan kelentingan sebagai kemampuan untuk bangkit dari penderitaan, dengan menjadi lebih kuat dan lebih memiliki sumber daya. Kelentingan lebih dari sekedar kemampuan untuk bertahan ( survive ), karena kelentingan memampukan orang untuk sembuh dari luka yang menyakitkan, mengendalikan kehidupannya dan melanjutkan hidupnya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Terdapat tiga faktor yang menjadi kunci bagi kelentingan keluarga, yaitu system keyakinan, pola pengorganisasian keluarga, dan proses komunikasi dalam keluarga. Keyakinan merupakan lensa yang digunakan untuk memandang dunia dan kehidupan. System keyakinan merupakan inti dari kelentingan keluarga yang mencakup tiga aspek, yaitu kemampuan untuk memaknai penderitaan, berpandangan positif yang melahirkan sikap optimis, dan keberagaman.
Pola pengorganisasian keluarga mengindikasikan adanya struktur pendukung bagi integrasi dan adaptasi dari unit atau anggota keluarga. Untuk menghadapi krisis secara efektif keluarga harus memobilisasi sumber dayanya dan melakukakn reorganisasi untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Pola pengorganisasian keluarga mencakup tiga aspek, yaitu fleksibilitas, keterhubungan (connectedness), serta sumber daya social dan ekonomi.
Komunikasi yang baik merupkan factor yang penting bagi keberfungsian dan kelentingan keluarga. Komunikasi mencakup transmisi keyakinan, pertukaran informasi, pengungkapan perasaan, dan proses penyelesaian masalah. Keterampilan yang menjadi elemen dari komunilkasi yang baik adalahketerampilan berbicara, mendengar, mengungkapkan diri, memperjelas pesan, menyinambungkan jejak, menghargai dan menghormati. Tiga aspek komunikasi yang menjadi kunci kelentingan keluarga adalah : (a) kemampuan memperjelas pesan yang memungkinkan anggota keluarga untuk memperjelas situasi krisis; (b) kemampuan untuk menungkapkan perasaan yang memungkinkan anggota keluarga untuk berbagi, sering berempati, berinteraksi secara menyenangkan, dan bertanggung jawab terhadap masing- masing perasaan dan perilakunya; dan (c) kesediaan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah sehingga yang berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing
2. Kekukuhan Keluarga
Selain konsep tentang kelentingan keluarga, terdapat ahli yang mengajukan konsep kekukuhan keluarga. Kekukuhan kelurga merupakan kualitas relasi dalam keluarga yang memberikan sumbangan bagi kesehatan emosi dan kesejahteraan (well-being) keluarga. Defraint dan Stinnett (2003) mengidentifikasi enam karakteristik bagi keluarga yang kukuh, sebagai berikut :
1. Memiliki komitmen. Dalam hal ini keberadaan setiap anggota keluarga diakui dan dihargai. Setiap anggota keluarga memilki komitmen untuk saling membantu meraih keberhasilan, sehingga semangatnya adalah “satu untuk semua, semua untuk satu” intinya adalah terdapat suatu kesetiaan terhadap keluarga dan kehidupan keluarga menjadi prioritas.
2. Terdapat kesediaan untuk mengungkapkan apresiasi. Setiap orang menginginkan apa yang dilakukannya diakui dan dihargai, karena penghargaan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Ketahanan keluarga akan kukuh manakala ada kebiasaan memngungkpakan rasa terima kasih. Setiap anggota keluarga dapat melihat sisi baik dari anggota lainnya, dan selalu terbuka untuk mengakui kebaikan tersebut. Setiap ada keberhasilan dirayakan bersama. Dengan demikian komunikasi dalam keluarga bersifat positif, cenderung bernada memuji, dan manjdi kebiasaan.
3. Terdapat waktu untuk berkumpul bersama. Sebagian orang beranggapan bahwa dalam hubungan orang tua anak yang penting terdapat waktu yang berkualitas, walaupun tidak sering. Namun kuantitas interkasi orang tua anak dimasa kanak-kanak menjadi pondasi penting untuk membentuk hubungan yang berkualitas dimasa perkembangan anak selanjutnya. Melalui interkasi orang tua anak yang frekuensinya sering akan mendukung terbentuknya kedekatan anak dengan orang tua. Oleh karena itu, keluarga yangt kukuh memiliki waktu untuk melakukan kegiatan bersama dan sering melakukannya. Misalnya makan bersama, bermain bersama, dan bekerja bersama. Secara berkala keluarga melakukan aktivitas diluar rutinitas, misalnya rekreasi. Seringnya kebersamaan membantu anggota keluarga untuk menumbukan pengalaman dan kenangan bersama yang akan menyatukan dan menguatkan mereka.
4. Mengembangkan spiritualitas. Bagi sebagian keluarga, komunitas keagamaan menjadi keluarga kedua yang menjadi sumber dukungan selain keluarganya. Ikatan spiritual memberikan arahan, tujuan dan perspektif. Ibarat ungkapan, keluarga-keluarga yang sering berdoa bersama akan memiliki rasa kebersamaan.
5. Menyelesaikan konflik serta menghadapi rtekanan dan krisis dengan efektif. Setiap keluarga pasti mengalami konflik, namun keluarga yang kukuh akan bersama-sama menghadapi masalah yang muncul bukannya bertahan untuk saling berhadapan sehingga masalah tidak terselesaikan. Konflik yang muncul diselesaikan dengan cara menghargai sudut pandang masing-masing terhadap permasalahan. Keluarga yang kukuh juga mengelola sumber dayanya secara bijaksana dan mempertimbangkan masa depan, sehingga tekanan dapat diminimalkan. Ketika keluarga ditimpa krisis, keluarga yang kukuh akan bersatu dan menghadapinya bersama-sama dengan saling member kekuatan dan dukungan.
6. Memiliki ritme. Keluarga yang kukuh memilki rutinitas, kebiasaan dan tradisi yang memberikan arahan, makna, dan struktur trerhadap mengalirnya kehidupan sehari-hari. Mereka memilki aturan, prinsip yang dijadikan pedoman. Ritme atau pola-pola dalam keluarga ini akan memantapkan dan memperjelas peran keluarga dan harapan-harapan yang dibangunnya. Selain itu, keluarga yang sehat terbuka terhadap perubahan., dengan belajar untuk menyesuaikan kebutuhan-kebutuhan didalam keluarga. Dengan demikian, dimungkinkan munculnya kebiasaan-kebiasaan atau ritme baru sebagai bagian dari proses penyesuaian. Karena masa lalu dan masa sekarang adalah bagian dari proses pertumbuhan. Harmoni dan ritme mungkin berubah sebagai hasil dari kreativitas, akan tetapi tetap saja hasilnya adalah music yang indah.
C. Peran Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga, kelompok dan masyarakat.
Berbagai peranan yang terdapat dalam keluarga adalah sebagai berikut:
1. Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya.
2. Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3. Anak-anak melaksanakan peranan psikosial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik,mental, sosial, dan spiritual.
D. Tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai berikut:
1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.
2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.
4. Sosialisasi antar anggota keluarga.
5. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang lebih luas.
8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.
E.Tujuan Keluarga
1. Menurut Duvall dan Logan (1986), tujuan berkeluarga adalah untuk menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga.
2. Menurut Sotjipto Subeno
a) Keluarga dibentuk untuk membentuk sifat-sifat bertanggungjawab. Manusia adalah mahkluk yang diciptakan dengan akal budi dan kepadanya diberikan tugas untuk dapat memilih berdasarkan pada suatu kebijakan (wisdom), dimana setiap pemilihan harus disertai dengan tanggungjawab. Manusia sebagai gambar dan rupa Tuhan dicipta mempunyai kemampuan untuk dapat memikirkan, mengatur dan melakukan pemilihan. Dan hal ini tidak terlepas juga di dalam permasalahan keluarga. Ketika kita mau berkeluarga, kita penuh dengan berbagai pilihan dan tuntutan per-tanggungjawaban. Dan ini memang menjadi natur dasar manusia agar hidup dengan tepat dan dapat bertanggungjawab.
b) Keluarga dibentuk untuk membentuk sifat-sifat yang baik, artinya di dalam pembentukan suatu keluarga diharapkan dapat membentuk sifat-sifat kebaikan didalam diri setiap anggota. Didalam hal ini keluarga dapat memberi pengaruh yang kuat terhadap pembentukan sifat-sifat setiap anggota keluarga tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar